Showing posts with label trip. Show all posts
Showing posts with label trip. Show all posts

Tuesday, 28 March 2017

Pesona Krabi Yang Mulai Terpancar (240317)

Salah satu sudut penanjakan menuju puncak Tiger Cave Temple
24 Mar  Jakarta – Kuala Lumpur KL810    19:25 – 22:30
25 Mar  Kuala Lumpur – Krabi   AK866   07:10 – 07:30
  
Tidur di KLIA2
Sebagai seseorang yang mencintai Thailand, tentunya semacam menjadi rutinitas wajib untuk ingin lebih mengetahui apa saja yang terbaru dan menarik dari salah satu negara yang terkenal dengan surga belanja dan makanan ini. Bangkok, Pattaya & Phuket merupakan 3 kota yang seringkali dikunjungi oleh wisatawan, tapi Krabi? Rasanya belum begitu populer. Gw pun akhirnya memutuskan untuk mengunjunginya. Kali ini ga sendirian, ada Inne & Nadia plus Wil yang nyusul keesokan harinya.

Air Asia memiliki 3x penerbangan dari Kuala Lumpur yaitu 07:10, 13:30 & 17:00 dengan durasi 01 jam 20 menit. Gw memilih yang jam 07:10 dengan konsekuensi menginap di KLIA 2 terlebih dulu, the bright side thing adalah gw bisa merasakan transit yang lama dan usaha mencari spot ter-strategis (selain aman, tentunya dekat dengan colokan listrik). Lokasinya di belakang Starbucks lantai 2 dekat smoking room ^-^v

Setibanya di Krabi International Airport dan membeli sim card lokal, gw langsung membeli tiket bus menuju Ao Nang, yang merupakan kawasan pantai terpopuler. Letaknya sekitar 26 km dengan lama perjalanan sekitar 35 menit, namun bus tidak diperkenanankan masuk ke area tersebut, para penumpang disediakan sejenis angkot untuk melanjutkan perjalananan dari Krabi Town tanpa biaya tambahan. Kesan pertama yang gw dapatkan di Krabi adalah jalan raya yang lebar tanpa macet dan belum begitu banyak pembangunan.

Angkot khas Krabi

Sambil menunggu waktu check-in hotel, gw dan Inne menuju ke kios travel agent untuk menanyakan beberapa tempat wisata yang sebelumnya sudah ada di bucket list. Tidak begitu banyak tempat wisata ikonik yang di highlight. Tadinya sempat berpikir untuk mengambil paket halfday tour dengan tujuan Tiger Cave Temple & Elephant Trekking namun karena efek kurang tidur dan ehemm… uang yang terbatas, kami memutuskan untuk mengunjungi 1 tempat saja yaitu Tiger Cave Temple. Itupun tidak menggunakan paket tour, namun dengan menggunakan angkot. Untuk mendapatkan angkot yang lewat, sangat mudah karena di sepanjang jalan raya Ao Nang, terdapat signage tempat angkot berhenti yang menuliskan tujuan serta ongkos yang harus dibayar.
Sailfish Statue di Pantai Aonang sejak 2005

Tiger Cave Temple (Wat Tham Suea) berlokasi sekitar 4 km dari Krabi Town, merupakan komplek suci umat Buddha untuk tempat meditasi Vippassana (suatu cara merubah diri sendiri melalui pengamatan diri). Namanya mulai digunakan sejak tahun 1975, saat seorang biksu bernama Jumnean Seelasethho diberikan “penglihatan” dikelilingi oleh harimau yang juga meninggalkan tanda berupa jejak pada salah satu dinding goa. Ada 3 area yang dapat dikunjungi : goa yang menyimpan beberapa artefak kuno, pagoda dan yang utama adalah patung Buddha yang dapat ditempuh dengan menggunakan 1,237 anak tangga lengkap dengan sedikit gangguan dari beberapa monyet hutan ! Dengan tekad sekuat baja dan usaha yang kuat, akhirnya gw MENYERAH di tangga ke 587. Anak tangga yang curam dan berliku plus gerimis akhirnya menciutkan semangat gw lengkap dengan alasan kurang istirahat untuk terhindar dari sakit. Gw pun kembali ke bawah dengan rela menerima kenyataan bahwa 2 temen gw yang wanita itu ternyata mampu menyelesaikan tantangan ini. Sebagai “hadiah” mereka mendapatkan pemandangan berupa gugusan hutan yang terbentang indah lengkap dengan Laut Andaman yang keren banget katanya (sampai saat ini gw harus ikhlas menggunakan “katanya” karena ga ngalamin sendiri).

Karena sudah lewat jam 6 sore dan angkot dah ga ada yang mangkal, akhirnya kami bertiga harus rela menyewa mobil untuk menuju Krabi Town Weekend Night Market sambil menikmati malam minggu (yang biasanya kelabu, karena kami jomblo). Seperti Night Market pada umumnya, tempat ini menawarkan banyak sekali macam makanan. Dari yang otentik seperti green curry chicken, mango sticky rice, pad thai hingga yang fusion seperti sushi yang dipadukan dengan bumbu Thai, ga cuma makanan tapi juga banyak dijual berbagai oleh – oleh. Pasar ini dibuka setiap Jum’at, Sabtu & Minggu dari jam 5 – 10 malam, jadwal angkot terakhir menuju Ao Nang yaitu jam 10 malam. Area pasar tidak begitu besar, sangat nyaman untuk dikunjungi wisatawan yang kelelahan seperti kami.
Suasana di Krabi Town Weekend Night Market
Anyavee Ban Aonang Resort tempat kami menginap memiliki lokasi yang strategis karena hanya beberapa meter saja dari pantai. Kamarnya agak spooky karena bangunan lama, tapi karena live music yang terdengat hingga ke kamar membuat gw yang tidur sendiri merasa lebih “aman”.

Pengeluaran hari ini :

Tiket Jakarta – Kuala Lumpur Rp. 688.800
Tiket Kuala Lumpur – Krabi pp Rp. 971.500
Share hotel Rp. 300.000
SIM Card THB 200
Bus Bandara – Ao Nang THB 150
Makan siang THB 80
Air mineral, Nescafe THB 30
Jus pisang THB 40
Angkot Ao Nang – Tiger Cave Temple THB 150
Air mineral, pad thai, thai iced tea THB 90
Share mobil Tiger Cave Temple – Krabi Town Weekend Night Market THB 100
Squid satay 2 pcs THB 30
Green curry chicken with noodle THB 20
Ayam goreng THB 30
Share duren montong THB 200
Energy drink THB 10 

Wednesday, 24 February 2016

HOSTEL BUTUT DI SHENZHEN DENGAN PEMANDANGAN YANG DAHSYAT (160116)

Pemandangan dari 'the one and only luxurious hostel'
Tiba waktunya melepas kedinginan di Guilin yang menyenangkan dan bergegas menuju Shenzhen via Guilin North Railway Station yang sebenernya bisa ditempuh dengan menggunakan bus umum namun karena kendala bahasa dan waktu, gw harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar taksi.

Guilin North Railway Station
Ada 3 jadwal kereta cepat menuju Shenzhen North Railway Station yaitu jam 11:10, 16:12 dan 18:45 plus 1 kereta biasa pada jam 21:30 yang terdapat sleeper bed. Gw sengaja mengambil jadwal yang pertama agar lebih lama menikmati Shenzhen. Kangen juga dengan suasana kota metropolitan.


Seiring menipisnya persediaan uang, gw bertekad sekuat hati dan sepenuh jiwa untuk menggunakan transportasi umum selama di Shenzhen. Setibanya di kota nelayan yang di bangun pada tahun 1979 ini, gw langsung mencari Information Centre untuk bertanya bagaimana cara menuju hostel tempat gw menginap, tentunya dengan menggunakan Subway yang letaknya masih di area yang sama dengan stasiun tempat gw tiba.


Shenzhen Subway resmi digunakan untuk umum pada tahun 2004 dan memiliki 5 jalur :
-          Luo Bao Line (Line 1)                      : Luohu – Aiport East
-          She Kou Line (Line 2)                      : Chiwan – Xinxiu
-          Long Gang Line (Line 3)                 : Shuanglong – Yitian
-          Long Hua Line (Line 4)                   : Futian Checkpoint – Qinghi
-          Huan Zhong Line (Line 5)              : Qianhaiwan – Huangbeiling

Parah banget kan kamarnya
Nah yang agak menyebalkan, di mesin tempat membeli tiket hanya ada aksara mandarin, jadi agak repot mencocokan dengan hand map. Hostel kali ini sangat susah untuk dicari, berlokasi di sebuah gedung tua di lantai 28 dengan tipe mezanin. Pada saat pemesanan, gw membaca ‘Grand Opening Promo’ lengkap dengan lokasi dan harga yang tidak begitu mahal membuat gw yakin untuk memilih hostel yang bernama Lijing Mansion Hostel ini. Kenyataannya sangat pahit, ternyata ini hostel lama yang kotor dan tidak hanya ditempati oleh wisatawan namun terdapat beberapa warga lokal yang ‘ngekos’ disitu. Kamar yang gw huni terletak di bagian atas bersebelahan dengan kamar wanita, diisi oleh 8 orang dengan 4 ranjang reyot tingkat, gw dapet di bagian atas. Sepreinya entah sudah berapa lama ga diganti, tidak ada bantal apalagi guling, kamar mandinya jadi satu di bagian luar berhiaskan pakaian kotor, sampah shampoo sachet dan sampah tisu yang berbaur dengan ubin berlumut dan helaian rambut ntah punya siapa. Lagi – lagi karena kendala bahasa, gw agak males untuk berargumen kenapa ditulis GRAND OPENING PROMO. Grrr....


Ngobrol seru bareng Suzie
Namanya Suzie Lee, backpacker asal Amrik yang menyapa ramah disaat gw keluar kamar mandi. “Senang berkenalan dengan kamu” sapanya setelah gw menjawab berasal dari Indonesia. Rupanya dia pernah ke Indonesia pada tahun 2004 lalu dan masih ingat beberapa kalimat umum. Setelah mengobrol singkat, kami pun sepakat untuk cari tempat makan malam bareng.


Sambil menikmati early dinner dengan menu lokal di sebuah resto kecil, kami pun berbincang untuk saling mengenal. Dimulai dengan pertanyaan standar ‘dari kota mana dan akan ke kota mana?’ hingga pertanyaan ‘apa yang disuka dari Indonesia?’. Indonesia memiliki kesan tersendiri bagi Suzie, ia menghabiskan waktu sekitar 6 bulan menjelajah Indonesia dari Sabang ke Merauke dalam arti sebenarnya. Tidak dengan pesawat namun dengan PELNI dan transportasi darat yang termurah. Sempat menjadi sukarelawan di Aceh paska Tsunami hingga menjelajah Papua namun tidak sempat ke Raja Ampat karena sangat mewah dan mahal menurutnya. Ia juga sempat terkena Malaria di Pulau Banda dan dirawat orang lokal yang baik hati selama beberapa bulan. Untuk urusan lagu, dia sangat suka dengan ‘Jika’ nya Melly Goeslaw & Ari Lasso dan tentunya ‘Kucing Garong’ dari Trio Macan. Surprisingly, kedua lagu tersebut masih disimpan di itunes nya.

Deretan manequin berbaris di salah satu toko
Suzie tipikal yang sangat menikmati suasana alami sebuah kota, tidak tertarik dengan tempat wisata berbayar dan tidak mempunyai rencana. Jadi lebih gw yang mengarahkan, sambil berjalan kaki, kami pun menuju ke Dongmen Shopping Street yang merupakan pusat perbelanjaan terbesar di Shenzhen yang dibangun sejak sekitar 300 tahun lalu! Hanya berkeliling singkat saja, sekedar ingin tahu karena belum ada niat untuk berbelanja apapun. Oia, kami sempat mencicipi sate cumi panggang berukuran panjang berbumbu kari yang enak banget plus jambu potong segar.


Suzie punya kebiasaan unik yaitu memphoto beberapa manequin yang menurutnya aneh. Mulai dari manequin ala Lady Gaga hingga Whitney Houston yang kribo. Hahaha.... Kurang lebih sejam setelah kelelahan berkeliling, kami pun pulang ke ‘the one and only luxurious hostel’. Tidak cukup dengan kamar yang sumpek dan kotor, suara ngorok dan hp yang berisik ternyata membuat gw sangat susah tidur padahal badan ini capek banget. Saking keselnya, gw sampe hunting hostel lain via internet. Ditengah keputusasaan, gw menengok ke balkon yang penuh jemuran pakaian dalam tersebut dan terpana menyaksikan pemandangan citilights yang dahsyat berhiaskan kelap kelip lampu dengan siluet gedung pencakar langit yang memukau khas kota metropolitan. Ternyata masih ada sisi menyenangkan dari hostel ini. Hidup itu adil kalo kita bersyukur. Ya kan?
Pemandangan siang hari dari balkon hostel


Biaya hari ini :
- Tiket kereta Guilin – Shenzhen : RMB 242
- Sarapan burger : RMB 20
- Snack pagi : RMB 7
- Tiket subway – hostel : RMB 5
- Makan malam share : RMB 36
- Snack cumi share : RMB 5
- Snack + minuman 711 : RMB 12
- Buah : RMB 3
- Lijing Mansion Hostel 2 malam : RMB 98


Monday, 22 February 2016

DAYTRIP KE YANGSHUO & BERKENALAN DENGAN GADIS MALAYSIA (150116)


Kunjungan ke Guilin akan menjadi sempurna apabila mengunjungi Yangshuo plus sekitarnya dan nampaknya semesta mendukung suasana pagi ini. Cuaca cerah, hati senang dan tidur pulas membuat gw semakin semangat mengawali hari. Karena hanya sendirian, jadi gw bisa leluasa mengatur jadwal termasuk ikutan tour secara mendadak. Tepat jam 10 pagi gw dijemput dengan menggunakan bus untuk bergabung dengan turis lainnya. Diantara sekitar 20an turis, gw melihat ada 2 turis berhijab dan berpenampilan khas melayu. Mereka bernama Sarah & Hety asal Malaysia yang sedang extend melakukan ‘tour colongan’ setelah melakukan business trip di Guangzhou.

Perahu tradisional yang sedang menepi
Bus berhenti di tepian Dermaga Zhujiang dan para turis dibagi ke dalam beberapa group yang masing – masing berisi 4 orang. Dengan menggunakan golf cart menyusuri jalan kecil, kami diajak menuju ke perahu masing – masing dan siap menjelajahi Li River dengan pemandangan memanjakan melewati beberapa desa menarik seperti :Yang Di Village yang terkenal dengan legenda seorang putri kaisar yang mencari kambing kesayangannya dan kemudian menjelma menjadi bukit plus Langshi Village yang kerap menjadi spot memancing. Ada begitu banyak bukit yang digambarkan sebagai berbagai macam bentuk seperti kuda dan kelinci. Lama perjalanan menyusuri sungai yang tenang ini sekitar 90 menit, karena pada saat musim dingin, maka pemandangan agak terhalang kabut plus udara dingin yang semakin membuat suasana menjadi lebih dramatis.



Salah satu winehouse di Xingping
Perahu menepi di Xingping , sebuah kota kuno yang dibangun pada masa Dinasti Ming tepatnya tahun 1506, kota ini dulunya sempat menjadi yang terbesar di sepanjang Li River. Sambil berjalan kaki menuju bus, gw melewati beberapa tempat menarik seperti Xingping Old Street yang terdapat beberapa bangunan tua dan tentunya kedai oleh – oleh berupa tas dan beberapa item fashion handmade warga lokal dengan warna warni menarik. Plus tempat ngopi dan ngewine untuk menghangatkan badan, Sebenarnya tour berakhir sampai disini, namun tour guide menawarkan tour tambahan untuk menuju 2 objek selanjutnya yaitu Yulong River dan Shangri-la Theme Park. Sebagian besar rombongan Nampak tertarik untuk ikutan tour seharga RMB 90 tersebut.




Pyramid side di Xiangui Bridge
Yulong River yang biasa disebut miniatur Li River memiliki panjang 43 km. Yulong berarti ‘naga yang bertemu’, legenda mengatakan bahwa ada seekor naga yang datang karena terpesona dengan pemandangannya dan menetap disana selamanya. Kami diajak menuju salah satu jembatan kecil tertua bernama Xiangui Bridge, sebuah spot menarik yang bisa melihat deretan bukit hijau berbentuk naga dan piramid di sisi lainnya lengkap dengan pemandangan deretan perahu tradisional yang sedang menepi. Lokasi ini juga kerap menjadi track bersepeda dan olahraga di waktu cerah.

Shangri-la Theme Park merupakan representasi dari kehidupan masyarakat cina kuno, seperti bagaimana mereka berkebun, bermain alat musik, menari dan menghasilkan ragam kerajinan seperti ukiran dan kain. Kami diajak berkeliling menyusuri sungai kecil untuk melihat berbagai aktifitas tersebut di sisi kanan dan di kiri.

Salah satu sudut di Shangri-La Theme Park
Sore menjelang malam, kami kembali ke Guilin dengan menggunakan bus, agak bete juga karena sempat kena macet total sekitar 2,5 jam akibat pelebaran jalan. Bus menurunkan kami tepat di mana gw dijemput tadi pagi. Kali ini gw ga sendiri, ada Hety & Sarah yang kompak mencari night market untuk mencari tempat makan halal dan mencari oleh – oleh karena mereka akan kembali ke Kuala Lumpur keesokan harinya.

Night market yang dituju adalah Xicheng Market namun agaknya kami kurang cocok dengan barang yang dijual karena isinya hanya mainan dan pakaian yang bisa didapat dimana saja dengan kualitas dan harga yang kurang bersahabat. Berjalan kaki tidak jauh dari sana terdapat salah satu restoran halal yang terkenal bernama Endian Halal Resto yang menyajikan masakan halal khas timur tengah. Kami makan sangat lahap karena rindu dengan masakan seperti itu apalagi dengan nasi putih. Selesai makan malam, gw mengajak mereka menuju Zhengyang Pedestrian Area tempat dimana malam sebelumnya gw berkunjung dan mereka pun puas berbelanja oleh – oleh.

Bersama teman asal Malaysia dan pemilik resto
Hari yang sangat menyenangkan, dapat pengalaman perjalanan baru dan teman baru tentunya.  

Biaya hari ini :
- Yangshuo Daytrip : RMB150
- Additional tour :  RMB 90
- Snack bakwan : RMB 10
- Nescafe : RMB 4
- Makan malam share : RMB 35
- Bemo share Xicheng – Pedestrian : RMB 5
- Snack gula – gula : RMB 5
- Taksi share Pedestrian – Hostel : RMB 7

Thursday, 28 January 2016

KESERUAN MENJELAJAHI GUILIN (140116)

Sun & Moon Pagoda
Sebagai salah satu kota tujuan utama perjalanan kali ini, tadinya gw niat banget mau ambil paket city tour seharian, namun berdasarkan informasi yang didapat dari Rubi sang resepsionis, cuaca yang kurang stabil plus lokasi hotel yang strategis membuat gw membatalkan untuk mengambil paket seharga RMB 350 yang isinya termasuk makan siang ekslusif di atas pesiar sambil menyusuri Li River dari ujung yang satu ke ujung yang lainnya.

Elephant Trunk Hill
Hanya dengan berjalan kaki sekitar 500 m dari hostel, akhirnya gw menemukan tempat utama hari ini : Elephant Hill Scenic Area yang ternyata tidak hanya terdapat bukit bebatuan berbentuk gajah yang sedang meminum air sungai namun terdapat beberapa objek yang menarik seperti : Water Moon Cave, Puxiang Pagoda peninggalan Dinasti Ming, Yunfeng Temple, Love Island dan tentunya Mysterious Village yang terdapat begitu banyak patung sepasang kekasih dengan berbagai pose.

Oia kalo ada uang lebih, lo bisa balik lagi ke Mystrerious Village di malam hari untuk menyaksikan seni pertunjukan tarian, perkusi yang didukung oleh kecanggihan teknologi audio visual termasuk permainan laser dan lighting yang memukau. Terbagi menjadi 4 sesi yaitu :  Primitive Guilin, Mysterious Village, Phantom Theater dan Legend of God Elephant.


Mysterious Village
Setelah lelah menaiki puncak bukit untuk menikmati keindahan kota Guilin dari titik teratas plus berkeliling taman yang tidak begitu ramai selama sekitar 2 jam, gw melanjutkan perjalanan menuju lokasi lainnya yaitu Shanhu Lake tempat dimana terdapat Sun & Mood Pagoda setinggi 41 m dan 35 m yang saat malam hari menampilkan kelipan lampu yang menawan lengkap dengan dekorasi bunga warna – warni. Lanjut menyusuri sore hari yang dingin dan berangin, nampaknya gw agak kecepetan untuk singgah di Zhengyang Pedestrian Area yang merupakan salah satu pusat belanja terkemuka.

Pilihan yang pas untuk menunggu waktu ramai adalah dengan menyeruput hot chocolate grande size di Starbucks, Mengshidao Shopping Mall sambil memantau kejadian bom Sarinah yang menghebohkan itu, tak terasa sudah menjelang sore dan kembali menuju ke area yang ternyata menjual begitu banyak jajanan khas, oleh – oleh dan tentunya fashion terbaru ala Guilin.

Wajib nyobain street food khas Guilin
Bosan menyantap mie khas Guilin, akhirnya gw memutuskan untuk makan malam ala eropa di salah satu café yang gw lupa namanya. Hahahahaha... Berjalan kaki seharian di Guilin sangat menyenangkan. Kota kecil bersejarah yang berpadu dengan banyak hal modern namun tetap memberikan nuansa romantika yang kental

Biaya hari ini :
- Tiket masuk Elephant Hill Scienic Area : RMB 75
- Makan siang mie : RMB 10
- Starbucks : RMB 30
- Snack jagung goreng tepung : RMB 8
- Snack durian goreng tepung : RMB 10
- Pijat ala Tiongkok + tip : RMB 105
- Makan malam French Lamb + peach beer : RMB 78 

Wednesday, 27 January 2016

SELAMAT DATANG DI TIONGKOK YANG PENUH TANTANGAN ! (120116)

Kemegahan Gongbei Port
Jakarta – Kuala Lumpur AK383  0830 – 11:30
Kuala Lumpur – Macau AKB186 14:55 – 18:40

Akhirnya gw berani melakukan solo traveling keluar negeri lagi setelah sekian lama, tepatnya 13 tahun pasca masa muda keliling eropa tahun 2003 silam. Iya masa muda yang sepertinya tanpa takut dan minim kekhawatiran untuk melakukan apapun termasuk bepergian sendirian, BEDA sama sekarang yang gw rasain dan ini T I O N G K O K alias C I N A yang memang perlu kesiapan mental, fisik dan pikiran ekstra untuk ngejalaninnya

Gw termasuk salah satu dari kebanyakan flashpacker lainnya yang mengandalkan Air Asia untuk mendapatkan tiket murah plus merasakan sensasi menunggu lebih dari setahun menjelang keberangkatan. Kurang lebih sebulan sebelum tanggal yang dinanti, gw sudah tentukan kemana aja selama 8 hari akan menghabiskan waktu untuk berwisata, berkelana dan berpetualang. Kota – kota yang masuk ke daftar gw adalah : Zhuhai, Guilin, Shenzhen & Macau tentunya. Tadinya mau ke Guangzhou tapi menurut info yang gw dapet, disana ga jauh beda dengan Shenzhen, tipikal kota metropolitan dengan tujuan belanja murah. Jadilah gw ganti dengan Zhuhai, sebuah kota kecil yang merupakan perbatasan antara Tiongkok dan Macau yang memiliki pantai.

Oia, gw juga sempet cari local friend melalui Couch Surfing , tujuannya bukan untuk numpang tinggal tapi untuk cari info yang lebih akurat dan dari ke-4 kota tersebut hanya dapat di Macau aja. Voila! Tantangan trip ini bertambah lagi.

Gerbang Portas de Cerco
Setibanya di Macau, gw langsung nanya ke Information Centre gimana cara termurah ke Portas de Cerco yang merupakan gerbang perbatasan di Macau. Begitu keluar bandara, langsung ke bus stop yang letaknya di tengah bagian luar area masuk. Gunakan bus no A1 turun di Passby Terrminal Maritimo kemudian lanjut naik bus no 3A atau 10B untuk lanjut ke tujuan yang dimaksud. Nah, naik bus di Macau tuh ga semudah di negara wisata lainnya. Walaupun dilengkapi dengan free wifi, namun petunjuk pemberhentian hanya tercantum kecil banget di pintu masuk, bukan di sepanjang bagian bus. Jadilah gw nyasar pas pergantian bus kedua dan harus rela mengeluarkan uang ekstra dengan menggunakan taksi dengan tarif sekali buka pintu MOP 17 karena takut telat tiba di perbatasan. Waktu yang ditempuh seharusnya ga sampai sejam, lo bisa sambil menikmati sightseeing kota Macau yang menurut gw seperti little europe dengan segala keteraturan dan romantika bentuk bangunan kuno berbaur dengan bangunan modern lengkap dengan tatanan lampu yang menyenangkan.

Dekorasi menyambut Tahun Baru Cina
Gerbang antrian kedua negara dibuka setiap harinya dari jam 07:00 hingga 24:00, jika di Macau bernama Portas de Cerco, di Tiongkok bernama Gongbei Port. Jarak antar keduanya hanya sekitar 500 m dengan berjalan kaki. Oia, dari segitu besar dan banyaknya area jalur masuk imigrasi, hanya ada 2 jalur untuk visitor selain untuk penduduk Tiongkok, Macau & Hongkong yaitu di jalur bernomor 12 & 13.

Tidak seperti di Macau yang menyediakan huruf latin (walaupun menggunakan bahasa Portugis) di berbagai petunjuk umum, di Tiongkok ini sangatlah minim dan penduduk yang bisa bahasa Inggris pun sama minimnya dan gw ga  bisa Mandarin kecuali xie xie dan ni hau ma. Ga cukup sampai disitu, gw juga baru ngeh kalo berbagai akses aplikasi & situs internet di Tiongkok diblok termasuk GMaps, GLocation, Foursquare & Chrome yang seharusnya bisa membantu gw memberikan informasi selama di Zhuhai. Arggghhh……

Salah satu tempat clubbing hits di Zhuhai
Setelah berjalan kaki sekitar 20 menit dan bertanya ke begitu banyak orang, sampailah gw di Zhuhai Ten Hostel, dengan kamar berbentuk dorm berisi 6 ranjang tingkat. Kamar ini hanya dihuni oleh 3 orang termasuk gw. Sedikit beruntung karena resepsionis nya lumayan bisa berbahasa Inggris jadi gw banyak nanya ke dia. Informasi hostel ini gw dapet melalui C-Trip yang kayaknya jadi e-commerce pilihan utama oleh banyak traveler untuk bepergian ke Tiongkok. Sesuai ekspektasi : bersih, strategis dan cukup fancy. Ga berasa dah jam 9 malam dan sudah melewati waktu malam. Menyusuri kota Zhuhai yang dingin di malam hari lumayan menyenangkan karena jarak kemana – mana ga begitu jauh.

Ga jauh dari deretan tempat makan, gw menemukan jajaran tempat clubbing dengan design bangunan & nama yang modern semisal Muse dan Club 88 yang banyak dikunjungi kaum muda Zhuhai. Distrik nya bernama Wuhou.

Biaya hari ini :
- Tiket Air Asia Jakarta – Macau PP : IDR 1,363,701
- Visa Cina 1 entry via travel agent : IDR 700,000
- Makan siang paket nasi briyani di KLIA : MYR 26
- Air Mineral di KLIA : MYR 3,5
- Bus AP1 Macau Airport – Passby Terminal Maritimo : MOP 4,2
- Bus 3A Passby Terminal Maritimo – turun taksi (dunno where) : MOP 3,2
­- Taksi ke Portas do Cerco : MOP 41
- Nescafe di vending machine Terminal Maritimo : MOP 10
- SIM card lokal plus langganan internet : RMB 85
- Makan malam nasi soup ayam porsi besar : RMB 84
- Minuman milk green tea : RMB 3,5
- Zhuhai Ten Hostel 1 malam : RMB 62

Sunday, 23 November 2014

NARMADA : Air Mineral Kebanggaan Lombok & Gili

Jika berkunjung ke Lombok dan Gili, lo bakalan susah menemukan Aqua sebagai pilihan utama untuk konsumsi air mineral. Sebagai penggantinya, akan ada NARMADA yang sering disebut Aqua – nya masyarakat sekitar. Tenang aja, ini bukan air mineral yang diolah secara tidak higienis namun merupakan air mineral yang diolah dan diproduksi dengan menjaga kualitas, keamanan, kesehatan serta ramah lingkungan oleh PT. Narmada Awet Muda yang berlokasi di Mataram sejak tahun 1995 sekaligus menjadi produsen air mineral kemasan pertama di Lombok. Sumber mata air nya berasal dari Gunung Rinjani, salah satu objek wisata yang terkenal dengan keindahan alamnya.  

Tidak hanya terkenal di Lombok dan Gili, Narmada juga diekspor ke Australia sejak 2008 yang kuantitas perdananya mampu menembus angka 5 kontainer atau setara dengan Rp.125 juta.

Lantas, apa arti Narmada? Terinspirasi dari salah satu objek wisata peninggalan sejarah di Lombok berupa Taman seluas 2 hektar yang di bangun pada tahun 1727 oleh Raja Mataram Lombok : Anak Agung Ngurah Karang Asem sebagai tempat upacara Pakelem yang bertujuan untuk memohon dan meminta sang Pencipta untuk menjaga keharmonisan alam semesta.Berlokasi sekitar 10 km sebelah timur Kota Mataram.

Narmada tersedia dalam 3 kemasan : 600 ml, 1.500 ml dan 19 liter. Selamat menjaga kesegaran liburan di Gili dengan Narmada ya.

Saturday, 22 November 2014

Ke Gili Trawangan via Lombok ala Non Backpacker

Bagi gw dan beberapa orang pecinta pantai, Gili Trawangan nampaknya menjadi salah satu destinasi favorit yang selalu dipilih untuk liburan atau mencari inspirasi. Pantai yang bersih, nightlife yang seru plus masyarakat yang ramah dan jujur menjadi daya tarik yang sulit di dapat dari tempat wisata lainnya.

Tahun 2014 ini adalah kali ke 4 gw ke Gili Trawangan namun kali pertama melalui Lombok, biasanya via Padang Bai terlebih dahulu karena udah persiapan nyetok tiket ke Bali dari beberapa bulan sebelumnya. Maklum saja, selagi masih bisa dapat murah kenapa harus pilih yang mahal? Hehehe… Selain cuma punya waktu sebentar dan mendadak, akhirnya rela via Lombok dengan harga tiket normal seharga Rp. 1.735.000.- dengan Lion Air.

Sebelum berangkat, gw sempatkan cari info di internet bagaimana cara yang paling efisien ke Pelabuhan Bangsal untuk menyeberang ke Gili. Murah nomor sekian tapi jangan sampai mahal juga kan. Dari info yang gw dapat, ada 2 cara yaitu pakai Bus Damri dulu ke Senggigi lalu lanjut dengan taksi atau dengan mobil sewa seharga 200-300rb. Nah kalo ga mau ribet, mending cara yang kedua aja, tapi mesti pintar nawar ke supirnya. Alhasil, pas tiba di Bandara Internasional Lombok, langsung cari info ke loket sewa mobil dan harga resminya adalah Rp.400.000,- dan ga bisa ditawar. Seperti kebanyakan ‘tradisi’ di banyak bandara di Indonesia, gw juga berharap akan ada supir independen yang biasanya menawarkan dibawah harga resmi dan bener aja akhirnya berjodoh dengan Pak Ibrahim yang mengintili gw setelah dari loket. Promonya yang membuat gw tertarik adalah : mobil Avanza baru 2 bulan, bersih dan wangi. Harga nya Rp.250.000,- karena efek bensin naik, yaudahlah gapapa toh masih dibawah harga resmi.

Ada 2 pilihan jalur menuju Pelabuhan Bangsal dari bandara, via Sengigi atau Pusuk yang terdapat Monkey Forest. Walaupun via Senggigi lebih lama 20 menit, gw tetap memilih Senggigi karena bisa sekalian lihat pemandangan pantainya yang indah. Kondisi jalan yang bagus dan ga macet, membuat perjalanan yang ditempuh 1 jam 50 menit terasa menyenangkan.

Loket Pelabuhan Bangsal yang sederhana banget
Sebelum memasuki area pelabuhan, biasanya calon penumpang ‘diwajibkan’ untuk naik cidomo (delman) seharga Rp.25.000,- dari tempat parkir ke tempat penyeberangan. Ini sebenarnya akal – akalan aja sih menurut gw, kenapa harus naik cidomo kalau ternyata bisa pakai mobil dan jaraknya cuma sekitar 200 m ? Lagi – lagi harus memilih, naik cidomo atau memberi ‘uang damai’. Gw miih cara yang kedua aja karena ga mau ribet. Hehehehe. Rp.20.000,- pun gw keluarkan untuk membayar ‘uang damai’ sekaligus sebagai tiket masuk.
Ada 2 pilihan transportasi yaitu dengan menggunakan perahu biasa seharga Rp. 13.000,- selama sekitar 45 menit dengan resiko harus menunggu 30 penumpang terlebih dahulu baru bisa jalan atau dengan fast boat seharga Rp.75.000,- selama sekitar 10 menit dan bisa jalan hanya dengan 10 penumpang. Pas di loket gw bertanya ternyata calon penumpang perahu biasa baru 5 orang yang menunggu, saat itu cuaca panas dan gw ga sabar pengen temu kangen dengan Gili, jadilah gw pilih cara yang kedua.

Jadwal penyeberangan dengan fast boat  dari Pelabuhan Bangsal ke Gili Trawangan mulai dari jam 11.30 WITA hingga 16.30 WITA dan sebaliknya mulai jam 09.30 WITA hingga 15.30 WITA sedangkan perahu biasa mulai dari jam 07.00 WITA hingga jam 17.00 WITA.
Suasana Pelabuhan Gili Trawangan
Biar nyaman, sebaiknya begitu sampai di Gili Trawangan langsung memesan tiket kembali sesuai jadwal yang diinginkan. Karena gw dah nyaman dengan Pak Ibrahim, jadilah gw minta dia untuk menjemput kembali di Pelabuhan Bangsal. Oia ini no nya Pak Ibrahim : 081907898914 , mungkin lo perlu seandainya liburan ke Gili.

Tuesday, 18 March 2014

BERKELANA KE AVENUE OF THE STARS + DISNEYLAND HONG KONG (110314)

Di hari ketiga ini lah kami baru menyempatkan diri untuk menjelajahi Hong Kong, namun karena kocek dan waktu yang terbatas, kita harus mengurungkan niat untuk pergi ke Ngong Ping (Buddha Village) + Crystal Cabin Cable Car nya serta ke The Peak yang menawarkan pemandangan indah landscape kota Hong Kong hingga 360 derajat dari ketinggian dan tentunya kami juga membatalkan ke objek wisata yang satu area dengan The Peak yaitu Madame Tussaud yang terkenal dengan sederetan patung lilin para selebriti dunia.

Salah satu patung di
Museum of Art
Pilihan kami jatuh kepada Avenue Of The Stars yang juga menjadi salah satu maskot wisata Hong Kong, selain karena gratis (tentunya), tak sah rasanya bila tidak menyaksikan sederetan patung yang merupakan apresiasi pemerintah Hong Kong terhadap industri perfilmannya yang mendunia. Tepat jam 9 pagi kami berangkat menuju Tsim Sha Sui dengan MTR dan berjalan sedikit langsung dapat melihat terlebih dahulu Museum of Art, Space Museum, Culture Centre dan Clock Tower dengan beberapa patung karya perupa Hong Kong dengan bentuk unik lengkap dengan maknanya.

Patung Bruce Lee
Angin yang berhembus kencang tak membuat kami berhenti menyusuri kawasan yang dibangun tepat di tepi Victoria Harbour sepanjang 440 m pada tahun 1982 oleh New World Group yang kemudian dikelola pemerintah Hong Kong tersebut. Dengan panorama pelabuhan modern lengkap dengan sederetan gedung pencakar langit seperti International Commerce Centre & Bank Of China Tower yang seolah menyambut kami, membuat kami bersemangat untuk menyusuri ratusan hand-print para bintang film legendaris Hong Kong diantaranya :  Jackie Chan, Bruce Lee, Chow Yun Fat, Gong Li dan Stephen Chow. Kami pun tak ketinggalan menyempatkan diri untuk berphoto di depan patung Bruce Lee yang ternyata harus antri juga dengan para turis asal Cina dan Indonesia tentunya. Di malam hari tempat ini sangat terkenal dengan Symphony of Light yaitu pertunjukan lampu laser lengkap dengan musik pengiringnya yang dipancarkan melalui sederetan gedung – gedung tepat jam 8 malam.

MTR berinterior Disney
Puas di Avenue Of The Stars, kami langsung menuju ke tempat penjualan tiket Disneyland yang letaknya tak begitu jauh dari MTR Central yaitu di Golden Crown Guest House, disana kami memperoleh tiket lumayan murah yaitu HKD 410 dari harga aslinya HKD 450. Tidak langsung menuju ke Disneyland kedua di Asia tersebut, namun kami menikmati makan siang terlebih dahulu di Yoshinoya, Langham Place yang nyatanya menjadi tempat andalan kami karena menu dan harganya sesuai budget ^_^v .

Perjalanan menuju Disneyland sangat mudah dengan MTR dan kami pun disambut dengan MTR berinterior khas Disney pada saat pindah dari Sunny Bay menuju Disneyland Resort. Well¸menurut gw yang sudah pernah ke Disneyland Tokyo dan Universal Studio Osaka, tempat ini ga ada apa – apanya walaupun dibuka baru pada tahun 2005, bahkan jika dibandingkan dengan Dufan sekalipun. Kecewa berat dan alhasil cuma bisa menggerutu aja.

Welcome to Disneyland
Oia tidak diperkenankan membawa makanan dan minuman apalagi tikar (situ pikir situ ke Ragunan) untuk masuk ke Disneyland, agar pengunjung tidak membuang sampah sembarangan dan tentunya membeli di dalam dengan harga yang mahal, untuk yang bawa tumbler tenang aja karena banyak tempat pengisian air mineral di dalam dengan gratis.


Berikut beberapa rekomendasi permainan yang terbagi di beberapa area :

TOMORROW LAND
Tomorrow Land
- Space Mountain : roller coaster di dalam ruangan yang seolah membawa kita mengarungi angkasa
- Autopia : semacam bumper car yang cuma bisa bikin ngantuk
- Buzz Lighteryear Astro Blasters : tembak – tembakan musuh dengan sensor yang mirip seperti di Supermarket Tip Top jaman gw kecil

FANTASY LAND
Cocok buat yang masa kecilnya sering dibacain dongeng klasik Disney seperti Cinderella, Dumbo dan Snow White. Karena nyokap gw dulu seringnya ceritain tentang si Unyil (dan itu ga baca tapi nonton) jadinya gw ga ke area ini.

TOY STORY LAND
- Toy Soldier Parachute Drop : lo akan dibawa ke awang - awang terus di lepas kebawah dan di ndut-ndut in
- RC Racer : roller coaster berbentuk magnet, ini lumayan ekstrim jadi gw ga ikutan permainan ini

Ceritanya lagi tersesat
MYSTIC POINT
- Mystic Manor : duduk manis di dalem kendaraan kecil untuk melihat – lihat koleksi museum yang bisa ‘hidup’ seketika
- Garden of Wonders : terhampar beberapa trick art yang bisa membuat lo : oh-gitu-toh

GRIZZLY GULCH
- Big Grizzly Mountain Runaway Mine Cars : ini roller coaster yang menurut gw paling tidak terduga dan maksimal serunya. Iya ini aja yang bisa bikin hari gw ceria saat itu.

ADVENTURE LAND
Ini adalah area paling nyebelin, kita disuruh naik perahu nyeberang ke suatu pulau yang ada rumah Tarzan nya terus disuruh naik – naik tangga untuk menyusuri rumahnya Tarzan. Ga ada seru – serunya sama sekali dan bahkan kita balik lagi begitu sampai di rumah Tarzan ga penting itu.

Lion King
Wajib makan waffle ini
Tak ketinggalan juga untuk menyaksikan parade beberapa tokoh dari cerita Disney seperti : Winnie The Pooh, Toy Story, Lion King dan Mickey Mouse tentunya. Sambil menunggu pertunjukan kembang api tepat jam 8 malam yang sudah menjadi ritual penutupan Disneyland setiap harinya, kami duduk manis di area Main Street USA menikmati waffle berbentuk kepala Mickey Mouse dengan harga ‘cuma’ HKD 50 plus paha kalkun panggang nan besar dengan harga sama (mahalnya ya ampun). Karena ala backpacker gw cuma sanggup beli tempelan kulkas seharga HKD 45 di souvenir shop dan sangat iri hati ketika ngelihat pengunjung lain berbelanja berkantong – kantong. Grrrr….

Malam terakhir dan tentunya keuangan menipis namun bosan makan Yoshinoya-McD-KFC kami pun mengarungi beberapa tempat makan malam di sekitar Ladies Market, bukan mencari yang enak tapi mencari yang murah (penting). Tanpa sengaja kami menemukan ICHIBAN sebuah kios makanan Jepang yang menjual sushi dan bento, tak hanya murah tapi juga lezat dengan porsi yang banyak. Jadilah ini penutup yang manis malam itu.

Bergoyang di atas ranjang
Habis makan, jalan – jalan sebentar, kami pun langsung pulang ke apartemen untuk bersenda gurau dan photo – photo tentunya. Kali ini ga pakai acara bakar api unggun kok, tenang aja ^_^v

Pengeluaran Hari Ketiga :
- Makan siang Yoshinoya : HKD 42
- Tiket Disneyland : HKD 410
- Tempelan kulkas Disney : HKD 45
- Waffle & paha kalkun panggang : HKD 100
- Makan malam Ichiban : HKD 43

Sunday, 16 March 2014

BERKELANA KE MACAU (100314)

Hari kedua kami memilih ke Macau terlebih dahulu dibanding city tour di Hong Kong, rencana berangkat dari apartemen jam 8 pagi namun apadaya karena semalam kami begadang hingga larut jadi kami berangkat jam 9.30. Untuk pertama kalinya kami mencoba naik MTR (Mass Transportation System) -yang bentuk dan sistemnya sama persis dengan MRT di Singapore- tujuan Tsim Sha Sui dan lanjut berjalan kaki cukup jauh ke China Ferry Terminal. Layaknya pemandangan di Senin pagi yang selalu ramai, saat itu kami harus rela berjibaku di antara para pekerja di Hong Kong.

Tiket Ferry Hongkong - Macau PP
dengan nama pelabuhan berbeda
Ada begitu banyak calo di China Ferry Terminal, kondisi kami saat itu terburu – buru dan tanpa sadar kami pun beli di calo karena kami kira dia petugas karcis yang sedang berdiri di depan loket lengkap berseragam. Kami membeli tiket return seharga HKD 370 padahal sesuai yang tertera di tiket totalnya hanya HKD 345. Tidak perlu mengisi kartu imigrasi saat antri di perbatasan, kami pun naik ferry jam 10 selama 1 jam. Oia no seat  letaknya ada di bagian samping bawah bangku, kami sempat bingung mencari nomor seat yang pada umumnya tertulis di bagian atas bangku. Setibanya di Macau Ferry Terminal, suasana langsung berubah. Karena negara ini sempat dijajah Portugis, informasi umum yang ada dilengkapi dengan bahasa Portugis juga. Tidak perlu menukar uang HKD ke MOP karena hampir di semua tempat perbelanjaan menerima HKD sebagai alat pembayaran.


Tongsis - an di dalam Ferry
Setibanya di negara yang merdeka pada tahun 1999 ini sangat menarik untuk dijelajahi, dengan menggunakan bus gratis lengkap dengan free wi-fi nya -yang disediakan oleh berbagai tempat kasino- terletak pas di seberang pelabuhan, kami pun langsung menuju Grand Lisboa. Karena keterbatasan waktu, kami tidak jadi berkunjung ke Macau Fisherman’s Wharf (area bermain) yang letaknya hanya bersebelahan dengan pelabuhan.

St. Dominic
Untuk pertama kalinya, kami terkesima menyaksikan sebuah tempat perjudian legal yang memang menjadi magnet tersendiri bagi para pengadu nasib. Setelah puas berphoto – photo di depan Grand Lisboa, kami berjalan kaki menuju ke alun-alun kota yang bernama Senado Square, ini adalah gambaran miniatur kota di Eropa dengan suasana deretan beberapa gedung peninggalan Portugis yang eksotis dan historis. Mulai dari gereja, bekas gedung pemerintahan hingga air mancur yang masih berdiri kokoh. St. Dominic menjadi salah satu yang menarik karena gereja tersebut berwarna kuning dan masih digunakan sebagai tempat ibadah sampai saat ini.

Egg tart di kios ini mahal loh : MOP 10
Kami memilih makan siang di McD yang letaknya tidak jauh dari air mancur, kemudian lanjut jalan sedikit menuju Ruins of St.Paul Church (sebuah bangunan bagian depan gereja yang terbakar pada tahun 1835, dibangun pada 1580) melalui jalan yang mulai mengecil, kami pun ‘disambut’ dengan berbagai toko penjual baju, suvenir dan makanan lokal khas Macau. Portugese Egg Tart menjadi makanan kecil yang pantang kami tolak saat itu, hanya dengan MOP 8/pcs kami bisa menikmatinya dengan lahap.

Ruins of St. Paul Church
Kemegahan Ruins of St. Paul Church membuat kami berdecak kagum dan betah berlama – lama disitu sambil photo – photo (tentunya) dan menikmati sejuknya udara Macau (18’C). Dengan berjalan kaki kembali menuju daerah Lisboa, kami menggunakan bus gratis menuju The Venetian via City Of Dreams yang keduanya merupakan pusat kasino terbesar. Yang membuat The Venetian menarik adalah arsitektur megah khas Venesia yang aslinya terdapat di Italia. Sederetan butik kelas atas lengkap dengan interior unik dengan langit buatan menjadi objek yang menarik untuk disimak, tak ketinggalan gondola yang hilir mudik di San Luca Canal yang letaknya di lantai 3.

Sore hari kami bergegas menuju pelabuhan menggunakan bus gratis dan karena ketidaktelitian, kami pun salah pelabuhan. Harusnya bukan ke pelabuhan tempat kami mendarat tadi tapi di tiket tertulis pelabuhan lainnya : Mo Taipa Ferry Terminal.



Salah satu sudut di
San Luca Canal, The Venetian
Dengan menggunakan kepulangan ferry jam 7 malam, kami pun kembali ke Hong Kong dengan lelah namun senang ^_^v . Setibanya di Hong Kong, kami menikmati makan malam di KFC memilih paket ber 4, biar murah tentunya. Hihihihi. Dengan MTR kami kembali menuju ke Central untuk melihat suasana malam di tempat lain, Nathan Road menjadi jalan utama yang melintas antara Mongkok dan Tsim Sha Sui (jaraknya seperti dari Jl. Sudirman - Jl.Thamrin). Karena malam sebelumnya kami melihat ‘Nathan Road’ di Mongkok jadi kami kira bisa jalan kaki dengan jarak dekat dari Central namun kami salah lagi dan kami pun harus jalan jauh selama 1 jam hingga betis berkonde. Fiuwh... Di tengah perjalanan, kami singgah di Temple Street Market yang menjajakan berbagai barang kurang lebih sama dengan di Ladies Market namun dengan harga lebih murah hingga HKD 30. Disini juga terdapat sederetan tempat makan yang menjual makanan lokal, kami tidak mampir karena masih kenyang. Oia gw juga mampir ke toko obat yang menjual murah Omega 3 berisi 4 botol @ 100 kaplet dengan harga hanya HKD 100, di Indonesia mahal loh per botolnya bisa Rp. 200 ribuan.

Karena ini konsepnya backpacker jadi kita ga clubbing sama sekali termasuk malam ini, diganti dengan masak Indomie di apartemen sekaligus bersendagurau kembali ^_^v

Pengeluaran Hari Kedua :
- Tiket Ferry Hong Kong – Macau PP : HKD 370
- Makan siang McD : MOP 38
- Egg tart 2 pcs : MOP 16
- Makan malam KFC : HKD 37
- Lip gloss (karena bibir kering efek dingin) : HKD 10
- Flash disk 8GB 5 pcs untuk oleh – oleh : HKD 50
- Magnet kulkas 5 pcs untuk oleh – oleh : HKD 75