Showing posts with label china. Show all posts
Showing posts with label china. Show all posts

Monday, 7 March 2016

BERSANTAI DI TAMAN & BERBAUR DENGAN MASYARAKAT LOKAL SHENZHEN (170116)

Selain dikenal sebagai surga belanja, Shenzhen juga memiliki beberapa objek wisata yang kerap menjadi tujuan ‘wajib’ bagi para pelancong, diantaranya : Window Of The World & Splendid China Folk Village. Namun, gw memutuskan untuk tidak pergi ke semuanya. Berdasarkan informasi yang gw dapat, kedua tempat ini sudah lama tidak direnovasi sehingga menyebabkan banyak spot yang kotor dan tutup sementara plus harga tiket masuk yang lumayan mahal yaitu RMB 180 untuk ke masing – masing tempat.

Modern Toilet Resto yang masig menampilkan menu
Mumpung ada travel partner yang asik dan mempunyai offline maps di iphone nya (gw pake Android), akhirnya mengajak Suzie untuk mencari keunikan yang gratis dan menyenangkan dengan berjalan kaki, berharap menemukan sesuatu yang ga umum dan ga diduga. Malam sebelumnya gw sempet janjian dengan backpacker asal Indonesia untuk bertemu di Modern Toilet Resto di Dongmen, namun ternyata mereka ga bisa dihubungi mungkin karena kuota internetnya habis atau mungkin khilaf belanja >.<

Kami kembali berjalan kaki menuju Dongmen untuk hunting dimana lokasi Modern Toilet Resto yang merupakan franchise asal Taiwan, dibangun sejak 2008 dengan dekorasi unik sesuai namanya. Mulai dari tempat duduk yang berbentuk kloset lengkap dengan makanan yang dibentuk seperti ‘pup’ namun dengan cita rasa yang enak dan khas. Rasa penasaran kami langsung buyar ketika mendapati restoran tersebut ternyata baru saja tutup, ntah untuk renovasi atau pindah lokasi. Tidak ada informasi yang tertempel di pintu masuk. Kami masih bisa masuk ke dalam dan menyaksikan beberapa ‘peninggalan’ dekorasi yang terbagi di lantai 2 dan 3, Jiefanlu Buliding tersebut.

Life Jacket Vending Machine
Sebelum lanjut menjelajahi tempat lainnya, kami mencari tempat makan termurah namun enak dan mata kami tertuju kepada sebuah tempat serupa warteg yang ramai antrian. Hanya dengan membayar RMB 12 gw dapat menikmati sepiring nasi, udang dan sayuran plus sambel yang enak banget. Slurppp.  


Selain mengumpulkan photo manequin, Suzie juga hobi mengoleksi beberapa tanda pengumuman yang salah pengejaan Bahasa Inggris. Tadinya gw ga ngeh, tapi ternyata lumayan banyak dan lucu banget. Ada ‘No Burning’ yang seharusnya ‘No Smoking’ plus vending machine bertuliskan ‘Life Jacket’ yang ternyata berisikan kondom serharga RMB 1 !


Pengemis yang beralaskan spring bed >.<
Kami sempat mampir ke salah satu coffee shop terkenal asal Taiwan yaitu 85' Bakery Cafe untuk membeli kopi sebagai teman berjalan kaki menyusuri Shenzhen di hari Minggu, sambil melihat kebiasaan hidup orang setempat sangat menyenangkan. Potret kehidupan kota metropolitan yang selalu ada kesenjangan, si kaya yang gadget dan bajunya terkini dan si miskin yang terlantar. Bedanya orang miskin di Shenzhen dan di Jakarta bisa terlihat dari alas tidur, jika di Jakarta hanya beralaskan koran, di Shenzhen minimal kasur tipis bahkan spring bed yang di sebelahnya ada koper butut tempat mereka menyimpan pakaian. Kalo di Indonesia kan cukup dengan kardus atau plastik bekas aja.






Bermain kartu bersama wanita - wanita cantik
Gw selalu suka menghabiskan waktu di taman, menikmati suasana yang tenang dengan oksigen yang sangat menyegarkan. Setelah berjalan kaki sekitar 20 menit melintasi area residensial, kami menemukan taman yang cukup besar bernama Shenzhen Renmin Park, dibangun pada tahun 1983 yang memiliki luas 10,08 hektar termasuk di dalamnya terdapat danau buatan 2,1 hektar. Secara garis besar, taman ini terbagi menjadi 4 area : Area Bersantai, Area Ibadah, Area Olahraga dan Area Budidaya Mawar. Di area bersantai terdapat beberapa orang tua yang sedang bermain kartu dan melantunkan nyanyian mandarin klasik. Area Ibadah terdapat gedung semacam chapel dan gedung pernikahan kecil. Taichi dan memancing di danau menjadi aktifitas yang dominan dilakukan di Area Olahraga. Walaupun musim dingin, namun gw masih bisa melihat beberapa bunga mawar berbagai jenis yang mekar dengan sempurna. Ada begitu banyak penghargaan yang disematkan oleh pemerintah atas kesuksesan pengeloaan taman ini, salah satunya pada tahun 2013 lalu mendapat predikat ‘The Best Botanical Garden’ oleh Chinese Association of Parks.


Happy sunset
Puas menghabiskan waktu di taman dengan bonus sunset di atas jalan layang sewaktu berjalan kaki kembali ke Dongmen, membuat hari ini menjadi sempurna. Karena ini malam terakhir gw di Tiongkok, gw berniat untuk makan sepuasnya. Ada 1 area khusus semacam food court yang sangat besar menghidangkan berbagai suguhan lokal termasuk makanan halal. Pilihan gw tertuju pada nasi goreng sayur khas Shenzhen, plus menikmati sepuas – puasnya 2 sate cumi yang besar.



Sekitar jam 9 malam, kami kembali ke hotel sambil berjalan kaki menikmati es krim yang kami beli di 711. Oia, akhirnya gw pindah ke kamar bawah yang kasurnya lebih empuk dan bukan dari besi reyot dengan menambah beberapa Yuan. Saatnya untuk packing dan pasang alarm untuk besok paginya berpetualang menuju Macau.

Biaya hari ini :
- Upgrade kamar hostel : RMB 10
- Makan siang : RMB 12
- Minuman : RMB 3.5
- Coffee : RMB 15
- Makan malam : RMB 10
- Sate Cumi : RMB 10
- Ice Cream : RMB 14.5

Wednesday, 24 February 2016

HOSTEL BUTUT DI SHENZHEN DENGAN PEMANDANGAN YANG DAHSYAT (160116)

Pemandangan dari 'the one and only luxurious hostel'
Tiba waktunya melepas kedinginan di Guilin yang menyenangkan dan bergegas menuju Shenzhen via Guilin North Railway Station yang sebenernya bisa ditempuh dengan menggunakan bus umum namun karena kendala bahasa dan waktu, gw harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar taksi.

Guilin North Railway Station
Ada 3 jadwal kereta cepat menuju Shenzhen North Railway Station yaitu jam 11:10, 16:12 dan 18:45 plus 1 kereta biasa pada jam 21:30 yang terdapat sleeper bed. Gw sengaja mengambil jadwal yang pertama agar lebih lama menikmati Shenzhen. Kangen juga dengan suasana kota metropolitan.


Seiring menipisnya persediaan uang, gw bertekad sekuat hati dan sepenuh jiwa untuk menggunakan transportasi umum selama di Shenzhen. Setibanya di kota nelayan yang di bangun pada tahun 1979 ini, gw langsung mencari Information Centre untuk bertanya bagaimana cara menuju hostel tempat gw menginap, tentunya dengan menggunakan Subway yang letaknya masih di area yang sama dengan stasiun tempat gw tiba.


Shenzhen Subway resmi digunakan untuk umum pada tahun 2004 dan memiliki 5 jalur :
-          Luo Bao Line (Line 1)                      : Luohu – Aiport East
-          She Kou Line (Line 2)                      : Chiwan – Xinxiu
-          Long Gang Line (Line 3)                 : Shuanglong – Yitian
-          Long Hua Line (Line 4)                   : Futian Checkpoint – Qinghi
-          Huan Zhong Line (Line 5)              : Qianhaiwan – Huangbeiling

Parah banget kan kamarnya
Nah yang agak menyebalkan, di mesin tempat membeli tiket hanya ada aksara mandarin, jadi agak repot mencocokan dengan hand map. Hostel kali ini sangat susah untuk dicari, berlokasi di sebuah gedung tua di lantai 28 dengan tipe mezanin. Pada saat pemesanan, gw membaca ‘Grand Opening Promo’ lengkap dengan lokasi dan harga yang tidak begitu mahal membuat gw yakin untuk memilih hostel yang bernama Lijing Mansion Hostel ini. Kenyataannya sangat pahit, ternyata ini hostel lama yang kotor dan tidak hanya ditempati oleh wisatawan namun terdapat beberapa warga lokal yang ‘ngekos’ disitu. Kamar yang gw huni terletak di bagian atas bersebelahan dengan kamar wanita, diisi oleh 8 orang dengan 4 ranjang reyot tingkat, gw dapet di bagian atas. Sepreinya entah sudah berapa lama ga diganti, tidak ada bantal apalagi guling, kamar mandinya jadi satu di bagian luar berhiaskan pakaian kotor, sampah shampoo sachet dan sampah tisu yang berbaur dengan ubin berlumut dan helaian rambut ntah punya siapa. Lagi – lagi karena kendala bahasa, gw agak males untuk berargumen kenapa ditulis GRAND OPENING PROMO. Grrr....


Ngobrol seru bareng Suzie
Namanya Suzie Lee, backpacker asal Amrik yang menyapa ramah disaat gw keluar kamar mandi. “Senang berkenalan dengan kamu” sapanya setelah gw menjawab berasal dari Indonesia. Rupanya dia pernah ke Indonesia pada tahun 2004 lalu dan masih ingat beberapa kalimat umum. Setelah mengobrol singkat, kami pun sepakat untuk cari tempat makan malam bareng.


Sambil menikmati early dinner dengan menu lokal di sebuah resto kecil, kami pun berbincang untuk saling mengenal. Dimulai dengan pertanyaan standar ‘dari kota mana dan akan ke kota mana?’ hingga pertanyaan ‘apa yang disuka dari Indonesia?’. Indonesia memiliki kesan tersendiri bagi Suzie, ia menghabiskan waktu sekitar 6 bulan menjelajah Indonesia dari Sabang ke Merauke dalam arti sebenarnya. Tidak dengan pesawat namun dengan PELNI dan transportasi darat yang termurah. Sempat menjadi sukarelawan di Aceh paska Tsunami hingga menjelajah Papua namun tidak sempat ke Raja Ampat karena sangat mewah dan mahal menurutnya. Ia juga sempat terkena Malaria di Pulau Banda dan dirawat orang lokal yang baik hati selama beberapa bulan. Untuk urusan lagu, dia sangat suka dengan ‘Jika’ nya Melly Goeslaw & Ari Lasso dan tentunya ‘Kucing Garong’ dari Trio Macan. Surprisingly, kedua lagu tersebut masih disimpan di itunes nya.

Deretan manequin berbaris di salah satu toko
Suzie tipikal yang sangat menikmati suasana alami sebuah kota, tidak tertarik dengan tempat wisata berbayar dan tidak mempunyai rencana. Jadi lebih gw yang mengarahkan, sambil berjalan kaki, kami pun menuju ke Dongmen Shopping Street yang merupakan pusat perbelanjaan terbesar di Shenzhen yang dibangun sejak sekitar 300 tahun lalu! Hanya berkeliling singkat saja, sekedar ingin tahu karena belum ada niat untuk berbelanja apapun. Oia, kami sempat mencicipi sate cumi panggang berukuran panjang berbumbu kari yang enak banget plus jambu potong segar.


Suzie punya kebiasaan unik yaitu memphoto beberapa manequin yang menurutnya aneh. Mulai dari manequin ala Lady Gaga hingga Whitney Houston yang kribo. Hahaha.... Kurang lebih sejam setelah kelelahan berkeliling, kami pun pulang ke ‘the one and only luxurious hostel’. Tidak cukup dengan kamar yang sumpek dan kotor, suara ngorok dan hp yang berisik ternyata membuat gw sangat susah tidur padahal badan ini capek banget. Saking keselnya, gw sampe hunting hostel lain via internet. Ditengah keputusasaan, gw menengok ke balkon yang penuh jemuran pakaian dalam tersebut dan terpana menyaksikan pemandangan citilights yang dahsyat berhiaskan kelap kelip lampu dengan siluet gedung pencakar langit yang memukau khas kota metropolitan. Ternyata masih ada sisi menyenangkan dari hostel ini. Hidup itu adil kalo kita bersyukur. Ya kan?
Pemandangan siang hari dari balkon hostel


Biaya hari ini :
- Tiket kereta Guilin – Shenzhen : RMB 242
- Sarapan burger : RMB 20
- Snack pagi : RMB 7
- Tiket subway – hostel : RMB 5
- Makan malam share : RMB 36
- Snack cumi share : RMB 5
- Snack + minuman 711 : RMB 12
- Buah : RMB 3
- Lijing Mansion Hostel 2 malam : RMB 98


Monday, 22 February 2016

DAYTRIP KE YANGSHUO & BERKENALAN DENGAN GADIS MALAYSIA (150116)


Kunjungan ke Guilin akan menjadi sempurna apabila mengunjungi Yangshuo plus sekitarnya dan nampaknya semesta mendukung suasana pagi ini. Cuaca cerah, hati senang dan tidur pulas membuat gw semakin semangat mengawali hari. Karena hanya sendirian, jadi gw bisa leluasa mengatur jadwal termasuk ikutan tour secara mendadak. Tepat jam 10 pagi gw dijemput dengan menggunakan bus untuk bergabung dengan turis lainnya. Diantara sekitar 20an turis, gw melihat ada 2 turis berhijab dan berpenampilan khas melayu. Mereka bernama Sarah & Hety asal Malaysia yang sedang extend melakukan ‘tour colongan’ setelah melakukan business trip di Guangzhou.

Perahu tradisional yang sedang menepi
Bus berhenti di tepian Dermaga Zhujiang dan para turis dibagi ke dalam beberapa group yang masing – masing berisi 4 orang. Dengan menggunakan golf cart menyusuri jalan kecil, kami diajak menuju ke perahu masing – masing dan siap menjelajahi Li River dengan pemandangan memanjakan melewati beberapa desa menarik seperti :Yang Di Village yang terkenal dengan legenda seorang putri kaisar yang mencari kambing kesayangannya dan kemudian menjelma menjadi bukit plus Langshi Village yang kerap menjadi spot memancing. Ada begitu banyak bukit yang digambarkan sebagai berbagai macam bentuk seperti kuda dan kelinci. Lama perjalanan menyusuri sungai yang tenang ini sekitar 90 menit, karena pada saat musim dingin, maka pemandangan agak terhalang kabut plus udara dingin yang semakin membuat suasana menjadi lebih dramatis.



Salah satu winehouse di Xingping
Perahu menepi di Xingping , sebuah kota kuno yang dibangun pada masa Dinasti Ming tepatnya tahun 1506, kota ini dulunya sempat menjadi yang terbesar di sepanjang Li River. Sambil berjalan kaki menuju bus, gw melewati beberapa tempat menarik seperti Xingping Old Street yang terdapat beberapa bangunan tua dan tentunya kedai oleh – oleh berupa tas dan beberapa item fashion handmade warga lokal dengan warna warni menarik. Plus tempat ngopi dan ngewine untuk menghangatkan badan, Sebenarnya tour berakhir sampai disini, namun tour guide menawarkan tour tambahan untuk menuju 2 objek selanjutnya yaitu Yulong River dan Shangri-la Theme Park. Sebagian besar rombongan Nampak tertarik untuk ikutan tour seharga RMB 90 tersebut.




Pyramid side di Xiangui Bridge
Yulong River yang biasa disebut miniatur Li River memiliki panjang 43 km. Yulong berarti ‘naga yang bertemu’, legenda mengatakan bahwa ada seekor naga yang datang karena terpesona dengan pemandangannya dan menetap disana selamanya. Kami diajak menuju salah satu jembatan kecil tertua bernama Xiangui Bridge, sebuah spot menarik yang bisa melihat deretan bukit hijau berbentuk naga dan piramid di sisi lainnya lengkap dengan pemandangan deretan perahu tradisional yang sedang menepi. Lokasi ini juga kerap menjadi track bersepeda dan olahraga di waktu cerah.

Shangri-la Theme Park merupakan representasi dari kehidupan masyarakat cina kuno, seperti bagaimana mereka berkebun, bermain alat musik, menari dan menghasilkan ragam kerajinan seperti ukiran dan kain. Kami diajak berkeliling menyusuri sungai kecil untuk melihat berbagai aktifitas tersebut di sisi kanan dan di kiri.

Salah satu sudut di Shangri-La Theme Park
Sore menjelang malam, kami kembali ke Guilin dengan menggunakan bus, agak bete juga karena sempat kena macet total sekitar 2,5 jam akibat pelebaran jalan. Bus menurunkan kami tepat di mana gw dijemput tadi pagi. Kali ini gw ga sendiri, ada Hety & Sarah yang kompak mencari night market untuk mencari tempat makan halal dan mencari oleh – oleh karena mereka akan kembali ke Kuala Lumpur keesokan harinya.

Night market yang dituju adalah Xicheng Market namun agaknya kami kurang cocok dengan barang yang dijual karena isinya hanya mainan dan pakaian yang bisa didapat dimana saja dengan kualitas dan harga yang kurang bersahabat. Berjalan kaki tidak jauh dari sana terdapat salah satu restoran halal yang terkenal bernama Endian Halal Resto yang menyajikan masakan halal khas timur tengah. Kami makan sangat lahap karena rindu dengan masakan seperti itu apalagi dengan nasi putih. Selesai makan malam, gw mengajak mereka menuju Zhengyang Pedestrian Area tempat dimana malam sebelumnya gw berkunjung dan mereka pun puas berbelanja oleh – oleh.

Bersama teman asal Malaysia dan pemilik resto
Hari yang sangat menyenangkan, dapat pengalaman perjalanan baru dan teman baru tentunya.  

Biaya hari ini :
- Yangshuo Daytrip : RMB150
- Additional tour :  RMB 90
- Snack bakwan : RMB 10
- Nescafe : RMB 4
- Makan malam share : RMB 35
- Bemo share Xicheng – Pedestrian : RMB 5
- Snack gula – gula : RMB 5
- Taksi share Pedestrian – Hostel : RMB 7

Thursday, 28 January 2016

KESERUAN MENJELAJAHI GUILIN (140116)

Sun & Moon Pagoda
Sebagai salah satu kota tujuan utama perjalanan kali ini, tadinya gw niat banget mau ambil paket city tour seharian, namun berdasarkan informasi yang didapat dari Rubi sang resepsionis, cuaca yang kurang stabil plus lokasi hotel yang strategis membuat gw membatalkan untuk mengambil paket seharga RMB 350 yang isinya termasuk makan siang ekslusif di atas pesiar sambil menyusuri Li River dari ujung yang satu ke ujung yang lainnya.

Elephant Trunk Hill
Hanya dengan berjalan kaki sekitar 500 m dari hostel, akhirnya gw menemukan tempat utama hari ini : Elephant Hill Scenic Area yang ternyata tidak hanya terdapat bukit bebatuan berbentuk gajah yang sedang meminum air sungai namun terdapat beberapa objek yang menarik seperti : Water Moon Cave, Puxiang Pagoda peninggalan Dinasti Ming, Yunfeng Temple, Love Island dan tentunya Mysterious Village yang terdapat begitu banyak patung sepasang kekasih dengan berbagai pose.

Oia kalo ada uang lebih, lo bisa balik lagi ke Mystrerious Village di malam hari untuk menyaksikan seni pertunjukan tarian, perkusi yang didukung oleh kecanggihan teknologi audio visual termasuk permainan laser dan lighting yang memukau. Terbagi menjadi 4 sesi yaitu :  Primitive Guilin, Mysterious Village, Phantom Theater dan Legend of God Elephant.


Mysterious Village
Setelah lelah menaiki puncak bukit untuk menikmati keindahan kota Guilin dari titik teratas plus berkeliling taman yang tidak begitu ramai selama sekitar 2 jam, gw melanjutkan perjalanan menuju lokasi lainnya yaitu Shanhu Lake tempat dimana terdapat Sun & Mood Pagoda setinggi 41 m dan 35 m yang saat malam hari menampilkan kelipan lampu yang menawan lengkap dengan dekorasi bunga warna – warni. Lanjut menyusuri sore hari yang dingin dan berangin, nampaknya gw agak kecepetan untuk singgah di Zhengyang Pedestrian Area yang merupakan salah satu pusat belanja terkemuka.

Pilihan yang pas untuk menunggu waktu ramai adalah dengan menyeruput hot chocolate grande size di Starbucks, Mengshidao Shopping Mall sambil memantau kejadian bom Sarinah yang menghebohkan itu, tak terasa sudah menjelang sore dan kembali menuju ke area yang ternyata menjual begitu banyak jajanan khas, oleh – oleh dan tentunya fashion terbaru ala Guilin.

Wajib nyobain street food khas Guilin
Bosan menyantap mie khas Guilin, akhirnya gw memutuskan untuk makan malam ala eropa di salah satu café yang gw lupa namanya. Hahahahaha... Berjalan kaki seharian di Guilin sangat menyenangkan. Kota kecil bersejarah yang berpadu dengan banyak hal modern namun tetap memberikan nuansa romantika yang kental

Biaya hari ini :
- Tiket masuk Elephant Hill Scienic Area : RMB 75
- Makan siang mie : RMB 10
- Starbucks : RMB 30
- Snack jagung goreng tepung : RMB 8
- Snack durian goreng tepung : RMB 10
- Pijat ala Tiongkok + tip : RMB 105
- Makan malam French Lamb + peach beer : RMB 78 

Wednesday, 27 January 2016

ZHUHAI, KOTA PANTAI YANG MODERN & KEDINGINAN DI GUILIN (130116)

Fisher Lady
Zhuhai – Guangzhou     C7642    14:30 – 15:43
Guangzhou – Guilin       D2842    17:20 – 20:16

Zhuhai Ten Hostel
Walaupun badan agak capek namun ga menghalangi gw untuk bangun pagi, jam menunjukan angka 07:33 di hp sesaat setelah membuka mata. Sejam kemudian gw langsung menitipkan koper kecil gw di resepsionis dan lanjut berjalan kaki menuju pantai yang letaknya tepat di belakang hostel.

Begitu banyak cerita di luaran bahwa Tiongkok negara yang kotor, semrawut dan penduduknya yang jorok, tapi kesan itu jauh dari Zhuhai yang bisa dibilang sebagai kota yang ‘baru’ di Tiongkok, tepatnya diresmikan pada tahun 1979 sebagai Special Economy Zone. Sebagai salah satu pusat bisnis, kota ini sangat tertata rapih dan modern. Sambil berjalan di tepi pantai yang dibatasi pagar beton, gw mencoba mencari tau dimana letak Fisher Lady yang merupakan patung ikonik di Zhuhai. Setelah bertanya ke begitu banyak orang dan hasilnya nihil, akhirnya gw memberanikan diri menggunakan taksi. Sialnya ditipu supir dengan harga non argo senilai RMB 50, padahal pas kembali dari sana cuma RMB 20!

Ini bukan di Amsterdam loh ^.^
Fisher Lady atau Lady Of The Ocean yang berlokasi di Xianglu Bay menjadi salah satu tujuan utama para wisatawan, patung ini memilki tinggi 8,7 m dan terbuat dari granit seberat 10 ton dibuat oleh pematung bernama Pan He. Suasana pagi itu ga seramai yang gw bayangkan, ada beberapa bus pariwisata yang parkir di seberang. Ga begitu jauh dari patung tersebut, terdapat gugsan pantai yang kali ini bisa digunakan sebagai tempat bermain, terlihat beberapa keluarga dan anak – anak yang sangat aman untuk berada disana. Ombak yang tenang serta angin yang semilir membuat mereka jadi betah bercengkrama. Tepat di seberang pantai berpasir kuning keemasan tersebut, terdapat sebuah taman yang luas dan rapi bernama Haibin Park, mata gw dimanjakan pemandangan berbagai bunga dan tata letak yang sangat nyaman. Mulai dari taman bermain anak, pohon yang rindang plus danau buatan yang ‘memaksa’ gw untuk berlama – lama disana.

Ga berapa lama selesai menikmati makan siang halal di dekat hotel, gw mengambil bagasi ke hostel dan melanjutkan berjalan kaki ke Zhuhai Rail Station yang ternyata letaknya bersebalahan dengan Gongbei Port. Tiket yang gw beli di C Trip ternyata berangkat bukan dari stasiun sana, namun dari stasiun yang berbeda. Dengan bantuan petugas, gw hanya diminta penambahan biaya tiket tambahan sebesar RMB10.

Guangzhou Rail Station
Ada beberapa pilihan transportasi menuju Guilin, bisa dengan nonstop bus dengan memakan waktu 10 jam di perjalanan atau sleeper bus yang 14 jam. Dengan pertimbangan efisiensi waktu, walau agak sedikit mahal, akhirnya gw memilih Intercity High Speed Train + Multiple Unit Train dengan jadwal yang sangat on-time. Kereta menjadi salah satu transportasi yang diandalkan setelah pesawat untuk menghubungkan antar kota di Tiongkok, gw sempat berdecak kagum melihat begitu besarnya Guangzhou Rail Station dan ga melewatkan berphoto di depannya, minimal gw pernah lah ke Guangzhou walau setitik aja. Hehehe…

Setibanya di Guilin, gw disambut dengan udara yang dingin banget, angka di hp menunjukan 6’C. Brrr… Langsung cari taksi untuk menuju Guilin Wagang Washe Hostel yang ternyata lokasinya strategis dengan harga yang sesuai kocek flashpacker seperti gw.

Biaya hari ini :
- Taksi hostel – Fisher Lady : RMB 50
- Taksi Fisher Lady – hotel : RMB 20
- Makan siang halal food : RMB 15
- Air mineral : RMB 4
- Tambahan tiket kereta Zhuhai – Zhuhai North : RMB 10
- Tiket kereta Zhuhai – Guangzhou : RMB 55
- Tiket kereta Guangzhou – Guilin : RMB 137,5
- Snack di Guangzhou Train Station : RMB 15
- Taksi Guilin North Station – hostel : RMB 30
- Cappucino : RMB 17
- Makan malam mie street food : RMB 7
- Guilin Wagang Washe Hostel 3 malam : RMB 75

SELAMAT DATANG DI TIONGKOK YANG PENUH TANTANGAN ! (120116)

Kemegahan Gongbei Port
Jakarta – Kuala Lumpur AK383  0830 – 11:30
Kuala Lumpur – Macau AKB186 14:55 – 18:40

Akhirnya gw berani melakukan solo traveling keluar negeri lagi setelah sekian lama, tepatnya 13 tahun pasca masa muda keliling eropa tahun 2003 silam. Iya masa muda yang sepertinya tanpa takut dan minim kekhawatiran untuk melakukan apapun termasuk bepergian sendirian, BEDA sama sekarang yang gw rasain dan ini T I O N G K O K alias C I N A yang memang perlu kesiapan mental, fisik dan pikiran ekstra untuk ngejalaninnya

Gw termasuk salah satu dari kebanyakan flashpacker lainnya yang mengandalkan Air Asia untuk mendapatkan tiket murah plus merasakan sensasi menunggu lebih dari setahun menjelang keberangkatan. Kurang lebih sebulan sebelum tanggal yang dinanti, gw sudah tentukan kemana aja selama 8 hari akan menghabiskan waktu untuk berwisata, berkelana dan berpetualang. Kota – kota yang masuk ke daftar gw adalah : Zhuhai, Guilin, Shenzhen & Macau tentunya. Tadinya mau ke Guangzhou tapi menurut info yang gw dapet, disana ga jauh beda dengan Shenzhen, tipikal kota metropolitan dengan tujuan belanja murah. Jadilah gw ganti dengan Zhuhai, sebuah kota kecil yang merupakan perbatasan antara Tiongkok dan Macau yang memiliki pantai.

Oia, gw juga sempet cari local friend melalui Couch Surfing , tujuannya bukan untuk numpang tinggal tapi untuk cari info yang lebih akurat dan dari ke-4 kota tersebut hanya dapat di Macau aja. Voila! Tantangan trip ini bertambah lagi.

Gerbang Portas de Cerco
Setibanya di Macau, gw langsung nanya ke Information Centre gimana cara termurah ke Portas de Cerco yang merupakan gerbang perbatasan di Macau. Begitu keluar bandara, langsung ke bus stop yang letaknya di tengah bagian luar area masuk. Gunakan bus no A1 turun di Passby Terrminal Maritimo kemudian lanjut naik bus no 3A atau 10B untuk lanjut ke tujuan yang dimaksud. Nah, naik bus di Macau tuh ga semudah di negara wisata lainnya. Walaupun dilengkapi dengan free wifi, namun petunjuk pemberhentian hanya tercantum kecil banget di pintu masuk, bukan di sepanjang bagian bus. Jadilah gw nyasar pas pergantian bus kedua dan harus rela mengeluarkan uang ekstra dengan menggunakan taksi dengan tarif sekali buka pintu MOP 17 karena takut telat tiba di perbatasan. Waktu yang ditempuh seharusnya ga sampai sejam, lo bisa sambil menikmati sightseeing kota Macau yang menurut gw seperti little europe dengan segala keteraturan dan romantika bentuk bangunan kuno berbaur dengan bangunan modern lengkap dengan tatanan lampu yang menyenangkan.

Dekorasi menyambut Tahun Baru Cina
Gerbang antrian kedua negara dibuka setiap harinya dari jam 07:00 hingga 24:00, jika di Macau bernama Portas de Cerco, di Tiongkok bernama Gongbei Port. Jarak antar keduanya hanya sekitar 500 m dengan berjalan kaki. Oia, dari segitu besar dan banyaknya area jalur masuk imigrasi, hanya ada 2 jalur untuk visitor selain untuk penduduk Tiongkok, Macau & Hongkong yaitu di jalur bernomor 12 & 13.

Tidak seperti di Macau yang menyediakan huruf latin (walaupun menggunakan bahasa Portugis) di berbagai petunjuk umum, di Tiongkok ini sangatlah minim dan penduduk yang bisa bahasa Inggris pun sama minimnya dan gw ga  bisa Mandarin kecuali xie xie dan ni hau ma. Ga cukup sampai disitu, gw juga baru ngeh kalo berbagai akses aplikasi & situs internet di Tiongkok diblok termasuk GMaps, GLocation, Foursquare & Chrome yang seharusnya bisa membantu gw memberikan informasi selama di Zhuhai. Arggghhh……

Salah satu tempat clubbing hits di Zhuhai
Setelah berjalan kaki sekitar 20 menit dan bertanya ke begitu banyak orang, sampailah gw di Zhuhai Ten Hostel, dengan kamar berbentuk dorm berisi 6 ranjang tingkat. Kamar ini hanya dihuni oleh 3 orang termasuk gw. Sedikit beruntung karena resepsionis nya lumayan bisa berbahasa Inggris jadi gw banyak nanya ke dia. Informasi hostel ini gw dapet melalui C-Trip yang kayaknya jadi e-commerce pilihan utama oleh banyak traveler untuk bepergian ke Tiongkok. Sesuai ekspektasi : bersih, strategis dan cukup fancy. Ga berasa dah jam 9 malam dan sudah melewati waktu malam. Menyusuri kota Zhuhai yang dingin di malam hari lumayan menyenangkan karena jarak kemana – mana ga begitu jauh.

Ga jauh dari deretan tempat makan, gw menemukan jajaran tempat clubbing dengan design bangunan & nama yang modern semisal Muse dan Club 88 yang banyak dikunjungi kaum muda Zhuhai. Distrik nya bernama Wuhou.

Biaya hari ini :
- Tiket Air Asia Jakarta – Macau PP : IDR 1,363,701
- Visa Cina 1 entry via travel agent : IDR 700,000
- Makan siang paket nasi briyani di KLIA : MYR 26
- Air Mineral di KLIA : MYR 3,5
- Bus AP1 Macau Airport – Passby Terminal Maritimo : MOP 4,2
- Bus 3A Passby Terminal Maritimo – turun taksi (dunno where) : MOP 3,2
­- Taksi ke Portas do Cerco : MOP 41
- Nescafe di vending machine Terminal Maritimo : MOP 10
- SIM card lokal plus langganan internet : RMB 85
- Makan malam nasi soup ayam porsi besar : RMB 84
- Minuman milk green tea : RMB 3,5
- Zhuhai Ten Hostel 1 malam : RMB 62