Wednesday, 4 February 2015

JAZZ MASA KINI YANG SUDAH MENJADI MASA LALU

Geliat industri musik jazz generasi muda tanah air mendapatkan masa kulminasi tertinggi antara tahun 2003 – 2007. Kesuksesan popularitas musik jazz saat itu tidak lepas dari peran penting beberapa aspek berikut :

-    Munculnya genre musik jazz baru yang secara umum disebut Nu Jazz mampu membuat pendengar muda tidak sadar dan tidak merasa konservatif menggunakan kata ‘jazz’ sebagai musik yang kekinian. Nu Jazz sendiri lahir dan berkembang sekitar tahun 90an di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa seperti Inggris, Perancis dan Jerman. Meramu musik jazz dengan berbagai sentuhan musik genre lainnya maupun musik eletronik yang lahir seiring berkembangnya teknologi saat itu seperti : funk, soul, electronic dance music dan house. Musisi yang dikenal sebagai trend-setter musik tersebut diantaranya : Koop (Swedia), Jazzanova (Jerman) dan Kyoto Jazz Massive (Jepang).
 
Jazzanova
-        Di awal tahun 2000-an beberapa musisi muda asal Indonesia yang kembali ke tanah air selepas menimba ilmu di salah satu institusi musik terbaik dunia yaitu Berklee College of Music (Boston & Kuala Lumpur) turut memberikan angin segar terhadap musik Nu Jazz tanah air, sebut saja SOVA yang sukses merilis 2 album : Tempo Tantrum (2003) dan Selayang Jingga (2005). Terdiri dari 2 personel yaitu Lawrence Aswin & Edward Fernandez dengan menyertakan beberapa musisi muda Indonesia untuk mengisi lini vokal seperti : Tompi, Andien, Renita, Marcell dan Soulmate. Tidak hanya secara audio, mereka sukses memperkenalkan formasi off air dalam bentuk Live PA yaitu : DJ + synthesizer, bass elektronik, flute dan vokal. Album perdana mereka pun sempat didaulat sebagai salah satu nominasi Best Dance/House/Electonic Music di Penghargaan Anugerah Musik Indonesia 2003. Kesuksesan ini tidak diikuti dengan ketidaksolidan kedua personelnya, sekitar 2006 mereka memutuskan untuk bersolo karier. Lawrence Aswin sempat membuat band beraliran serupa bernama WARRIORS OF MANGA bersama DJ Sushiplatter (DJ), Glen Dauna (keyboard), J Mono (bass), Rayendra (drum) dan Dira Sugandi (vokal) sedangkan Edward Fernandez bersolo karier dengan brand baru bernama ANDEZZZ [Departure People] yang merilis 3 album : Movin On (2007), Only You (2010), Electric Love3 (2013) serta beberapa single yang dirilis secara indie melalui label Laxity Records asal Amerika Serikat . Kabar baik hadir di penghujung 2014 dengan format reuni serta merilis single ‘Right Here With You’.

SOVA (2015)
Musisi lain yang juga memiliki peranan penting dalam memperkenalkan musik Nu Jazz ke Indonesia adalah Rayendra Sunito (drum, bass elektrik, gitar akustik) yang membentuk PARKDRIVE bersama kedua rekannya : Juno Adhi (keyboard, synthesizer, trumpet) dan Mikuni Gani (vokal) secara sukses merilis album perdana self-titled pada tahun 2005 yang didaulat menjadi ‘Exclusive Artist of The Month’ edisi Agustus oleh MTV dan menghasilkan penjualan hingga 3,000 keping CD di bulan pertama rilisnya. Sayangnya group ini pun vakum selepas posisi vokal sempat digantikan oleh Olive Latuputty dan merilis single ‘Biarkan’ (2007). Walaupun sempat tampil dalam format reuni pada 2011 di event Sunday Jazz Festival, Ancol & Jazz Goes To Campus, Depok agaknya kesolidan group ini juga patut dipertanyakan.
 
Formasi Terakhir PARKDRIVE : Juno - Olive - Rayendra
-   Kehadiran SOVA & PARKDRIVE sejak itu membuat musisi Indonesia semakin berani berkesplorasi dan berkarya di genre musik ini hingga melahirkan sebuah album bertajuk Jazz Masa Kini, The New Wave of Indonesian Jazz yang bisa dibilang sebagai etalase dan katalog musik Nu Jazz saat itu, rilis pada tahun 2007 menghadirkan 11 karya dari : Indra Aziz, Shelomita And Opustre Big Band, Bobb Quartet, Imam Pras Quartet (IPQ), Mian Tiara with Riza Arshad & Ricky Lionardi, Parkdrive, Nial Djuliarso Duo, Rifka,6th Element, Tomorrow People Ensemble dan Sequoia. Dirilis oleh salah satu label indie terkemuka Aksara Record, saya masih ingat betul suasana sore hari yang bersahaja dan meriah saat launching album yang diadakan di halaman belakang kantor Aksara Record di Kemang.

Cover Album Jazz Masa Kini
-       Karya yang indah, tidak akan berhasil diperkenalkan secara luas kepada masyarakat tanpa peran serta radio dan televisi. Begitu banyak radio di beberapa kota besar yang banyak memutar sederetan lagu dengan genre baru tersebut dengan menyediakan slot merata bersamaan dengan genre populer yang sudah ada. Lain lagi dengan televisi, saya masih ingat betul MTV saat masih menjadi parameter musik di Indonesia sebagai media komersil yang menayangkan berbagai musik yang tidak komersil sekalipun termasuk karya musisi – musisi Nu Jazz yang juga memiliki kualitas klip yang segar dan unik, diantaranya deretan video klip dari White Shoes & The Couple Company dan Sore yang sukses meramu musik era 70an ke dalam musik jazz. Kehadiran MTV di Indonesia pun tidak berlangsung lama, mulai mengudara sejak tahun 1993 dan resmi ditutup tahun 2011 setelah berpindah dari ANTV ke Global TV. MTV emang Gue Banget bahkan untuk kualitas tayangan saat ini pun, belum ada stasiun TV yang menghadirkan kualitas musik sebaik MTV.

-         Industri event dalam format festival pun juga mulai berani melirik musik jazz sebagai lahan menguntungkan, tentunya dengan menyeimbangkan idealisme dan komersialitas, diantaranya : Internasional Java Jazz Festival (2005 – sekarang) yang tak tanggung – tanggung di edisi perdananya langsung menghadirkan 1,405 musisi yang tampil di 11 panggung dengan berbagai genre jazz berbeda serta mampu mendatangkan sekitar 47 ribu pengunjung saat itu, hingga saat ini maju dan berkembang sebagai festival jazz terbesar di dunia. Tak ketinggalan dengan Jazz Goes to Campus (1978 – sekarang) yang secara konsisten hadir setiap tahunnya sebagai festival musik jazz tertua di dunia setelah North Sea Jazz Festival, Belanda. Geliat musik jazz saat itu juga sempat ‘membangkitkan’ kembali salah satu festival musik jazz tertua tanah air yaitu International Jakarta Jazz ‘Jak Jazz’ Festival (1988, 1993 – 1997, 2006 – 2008, 2010, 2012, 2014). Walaupun dikenal sebagai festival musik jazz konvensional, Jak Jazz juga berani menghadirkan musisi Nu Jazz seperti Bugz In The Attic & Monday Michiru di tahun 2007 serta Kyoto Jazz Massive di tahun 2008.
Official Poster Jak Jazz 2008

Trend distribusi melalui digital store ataupun social media saat ini tidak mampu mengembalikan kejayaan masa itu. Trend musik memang berputar dan saya sebagai penikmat musik, tidak sabar berada di titik putaran itu kembali.

Salam Musik Indonesia (yang sehat lahir dan batin).

Tuesday, 27 January 2015

Penolakan Aplikasi Visa Korea Selatan Dengan Syarat Yang Tidak Masuk Akal

Akhirnya merasakan juga gimana ga enaknya Visa ditolak dan yang paling ga asik adalah dari sebuah negara di Asia bernama Korea Selatan yang 2010 – 2012 lalu gencar mempromosikan dirinya lewat VISIT KOREA.

Rencana ke Korea Selatan sebenarnya sudah ada sejak beberapa tahun lalu, apalagi gw dipercayakan memandu beberapa acara yang diadakan Korea Tourism Organization (KTO) sejak 2010 jadi banyak hal yang akhirnya memotivasi gw untuk pergi kesana. Langkah pertama kali tentunya dengan membeli tiket promo Air Asia seharga Rp. 3,7 juta PP sekitar 10 bulan sebelum keberangkatan 3 – 10 Februari 2015.

Segala persyaratan sudah gw penuhi termasuk yang tidak masuk akal sekalipun : Ijazah terakhir dan BPKP salah satu kendaraan. Ada yang bisa bantu jelaskan konklusinya apa? Visa gw ditolak lantaran tidak bisa melampirkan SPT Tahun 2012-2013, lewat sesi wawancara gw sudah jelaskan bahwa perusahaan gw baru keluar SIUP 2 bulan lalu jadi tidak mungkin ada SPT dan sebagai individu gw tidak berkewajiban melaporkan pajak karena pekerjaan gw adalah ‘seniman’. Gw sangat merasa terhina dengan tidak diberikan spasi untuk berargumen. ‘Terhina’ bukan kata yang berlebihan karena gw sudah melampirkan berkas lain yang lebih masuk akal : lampiran tiket pesawat, konfirmasi hotel dan bukti keuangan yang lebih dari cukup nilainya. Hanya karena SPT saja semua jadi berantakan? Yang tidak ada hubungannya dengan kepentingan Korea Selatan sebagai negara yang dikunjungi. Atau ada yang bisa jelaskan?

Passpor gw yang terdapat Visa Inggris, Jepang dan Arab pun tidak dijadikan pertimbangan oleh Pihak Kedutaan. Pekerjaan gw yang pernah memandu beberapa acara KTO pun tidak digubris. Anehnya lagi teman gw yang lain kok tidak ada masalah sama sekali. Apakah ada yang namanya random checking?

Sebegitu rendah nya kah ‘nilai’ warga negara Indonesia dihadapan Korea Selatan sampai harus dibuat rumit dengan hal tidak masuk akal sekalipun?  Atau memang birokrasi yang alot antar pemerintah?

Masih ada negara lain yang lebih penting dan berguna untuk dikunjungi. Apa gunanya promo VISIT KOREA? Kalau segala sesuatu dipersulit dengan syarat tidak masuk akal? Apa karena sudah berhasil menarik lebih dari cukup wisatawan lantas jadi pongah untuk menerima kunjungan? 

Sunday, 11 January 2015

Menjelajahi Kawasan Pecinan, Jakarta

Bosan dengan mall, weekend ini gw menghabiskan waktu berkunjung ke kawasan Glodok atau biasa disebut ‘Pecinan’ untuk mencari sesuatu yang tidak gw rencanakan sebelumnya, buat gw ‘kejutan’ memiliki sensasi tersendiri. Memang paling pas menggunakan sepeda motor untuk menghindari kemacetan sekaligus bisa melewati berbagai jalan tikus yang konon banyak hal ‘tersembunyi’ di dalamnya.
Menyambut kedatangan Tahun Kambing
Setibanya disana, perut langsung memberi isyarat untuk diisi. Yap! Tujuan pertama adalah mencari tempat makan siang yang enak, ada sebuah jalan kecil bernama Pancoran yang terdapat beberapa kedai menggiurkan, konon tidak ada makanan cina yang tidak enak. Jadi bingung kan mau pilih yang mana, akhirnya memasuki sebuah tempat bernama ‘Lao Hoe’ karena tertarik dengan tempatnya yang bersih, tertata dan masih mempertahankan interior kunonya. Menu yang ditawarkan : Laksa Betawi, Bakmi Khas Belitung dan Ayam Goreng. Melirik meja yang lain kebanyakan memilih laksa, gw pun langsung memesan makanan yang sama. Tanpa maksud berlebihan, laksa yang dibanderol hanya seharga Rp.15 rb/porsi ini memiliki rasa yang pas banget : perpaduan antara santan, kemangi, ayam suir, bumbu kuning dan tentunya sejumput resep rahasia berhasil berbaur sempurna di lidah gw. Cempedak goreng tepung pun menjadi hidangan penutup yang pas. Slurrppp...
Enak, murah dan tanpa bahan pengawet
Berjalan kaki terasa tidak lelah karena disuguhi pemandangan berupa sederetan toko obat tradisional cina, cemilan khas dan nampaknya para pedagang sudah mulai menjajakan pernak – pernik Tahun Baru Cina yang akan berlangsung bulan Februari mendatang.
Gedung Chandra
Ada sebuah gedung besar yang menarik dan langsung gw masuki, namanya Gedung Chandra. Tak jelas gedung ini dibangun tahun berapa, informasi yang gw dapatkan di internet pun tidaklah memadai. Masih ada tanda – tanda kejayaan di dalamnya. Di dalam gedung ini dulunya terdapat 2 studio bioskop dan sebuah aula pertunjukan besar di lantai 2. Masih terlihat pelataran panggung lengkap dengan tirai raksasanya yang saat ini digunakan untuk arena bermain ding dong klasik dan tempat penjualan furniture khas oriental. Rasa kaget gw pun tidak berhenti sampai disitu, naik ke lantai 3 gw mendengar suara musik berkumandang, tak hanya musik namun ada suara parau sedang bernyanyi. Wah ternyata ada yang lagi karaoke di food court. SERU BANGET!! Hahahahaha. Tak jauh dari situ, gw melanjutkan ‘petualangan’ gw dan ternyata ada 2 tempat karaoke lainnya. Nampaknya sudah menjadi rutinitas harian bagi warga keturunan untuk relaksasi atau sekedar menghabiskan waktu sambil melestarikan tradisi turun – temurun.

Karaoke dan berdansa
Tak lengkap rasanya jika berkunjung ke daerah pecinan tidak melihat wihara yang menjadi salah satu saksi sejarah perjalanan kehidupan warga keturunan di Jakarta. Wihara Dharma Sakti atau yang bernama Jin De Yuan merupakan tempat ibadah umat Budha yang dibangun pada tahun 1938 dan terletak di Jl Petak Sembilan. Masih berdiri kokoh lengkap dengan ornament khas termasuk patung besar perlambang kemakmuran yang ‘menyapa’ di gerbang masuk area dalam.
 
Wihara Dharma Sakti
Sekitar jam 4 sore gw kembali ke rumah dan weekend kali ini pun berakhir manis dengan pengalaman baru dan seru. 

Sunday, 23 November 2014

NARMADA : Air Mineral Kebanggaan Lombok & Gili

Jika berkunjung ke Lombok dan Gili, lo bakalan susah menemukan Aqua sebagai pilihan utama untuk konsumsi air mineral. Sebagai penggantinya, akan ada NARMADA yang sering disebut Aqua – nya masyarakat sekitar. Tenang aja, ini bukan air mineral yang diolah secara tidak higienis namun merupakan air mineral yang diolah dan diproduksi dengan menjaga kualitas, keamanan, kesehatan serta ramah lingkungan oleh PT. Narmada Awet Muda yang berlokasi di Mataram sejak tahun 1995 sekaligus menjadi produsen air mineral kemasan pertama di Lombok. Sumber mata air nya berasal dari Gunung Rinjani, salah satu objek wisata yang terkenal dengan keindahan alamnya.  

Tidak hanya terkenal di Lombok dan Gili, Narmada juga diekspor ke Australia sejak 2008 yang kuantitas perdananya mampu menembus angka 5 kontainer atau setara dengan Rp.125 juta.

Lantas, apa arti Narmada? Terinspirasi dari salah satu objek wisata peninggalan sejarah di Lombok berupa Taman seluas 2 hektar yang di bangun pada tahun 1727 oleh Raja Mataram Lombok : Anak Agung Ngurah Karang Asem sebagai tempat upacara Pakelem yang bertujuan untuk memohon dan meminta sang Pencipta untuk menjaga keharmonisan alam semesta.Berlokasi sekitar 10 km sebelah timur Kota Mataram.

Narmada tersedia dalam 3 kemasan : 600 ml, 1.500 ml dan 19 liter. Selamat menjaga kesegaran liburan di Gili dengan Narmada ya.

Saturday, 22 November 2014

Ke Gili Trawangan via Lombok ala Non Backpacker

Bagi gw dan beberapa orang pecinta pantai, Gili Trawangan nampaknya menjadi salah satu destinasi favorit yang selalu dipilih untuk liburan atau mencari inspirasi. Pantai yang bersih, nightlife yang seru plus masyarakat yang ramah dan jujur menjadi daya tarik yang sulit di dapat dari tempat wisata lainnya.

Tahun 2014 ini adalah kali ke 4 gw ke Gili Trawangan namun kali pertama melalui Lombok, biasanya via Padang Bai terlebih dahulu karena udah persiapan nyetok tiket ke Bali dari beberapa bulan sebelumnya. Maklum saja, selagi masih bisa dapat murah kenapa harus pilih yang mahal? Hehehe… Selain cuma punya waktu sebentar dan mendadak, akhirnya rela via Lombok dengan harga tiket normal seharga Rp. 1.735.000.- dengan Lion Air.

Sebelum berangkat, gw sempatkan cari info di internet bagaimana cara yang paling efisien ke Pelabuhan Bangsal untuk menyeberang ke Gili. Murah nomor sekian tapi jangan sampai mahal juga kan. Dari info yang gw dapat, ada 2 cara yaitu pakai Bus Damri dulu ke Senggigi lalu lanjut dengan taksi atau dengan mobil sewa seharga 200-300rb. Nah kalo ga mau ribet, mending cara yang kedua aja, tapi mesti pintar nawar ke supirnya. Alhasil, pas tiba di Bandara Internasional Lombok, langsung cari info ke loket sewa mobil dan harga resminya adalah Rp.400.000,- dan ga bisa ditawar. Seperti kebanyakan ‘tradisi’ di banyak bandara di Indonesia, gw juga berharap akan ada supir independen yang biasanya menawarkan dibawah harga resmi dan bener aja akhirnya berjodoh dengan Pak Ibrahim yang mengintili gw setelah dari loket. Promonya yang membuat gw tertarik adalah : mobil Avanza baru 2 bulan, bersih dan wangi. Harga nya Rp.250.000,- karena efek bensin naik, yaudahlah gapapa toh masih dibawah harga resmi.

Ada 2 pilihan jalur menuju Pelabuhan Bangsal dari bandara, via Sengigi atau Pusuk yang terdapat Monkey Forest. Walaupun via Senggigi lebih lama 20 menit, gw tetap memilih Senggigi karena bisa sekalian lihat pemandangan pantainya yang indah. Kondisi jalan yang bagus dan ga macet, membuat perjalanan yang ditempuh 1 jam 50 menit terasa menyenangkan.

Loket Pelabuhan Bangsal yang sederhana banget
Sebelum memasuki area pelabuhan, biasanya calon penumpang ‘diwajibkan’ untuk naik cidomo (delman) seharga Rp.25.000,- dari tempat parkir ke tempat penyeberangan. Ini sebenarnya akal – akalan aja sih menurut gw, kenapa harus naik cidomo kalau ternyata bisa pakai mobil dan jaraknya cuma sekitar 200 m ? Lagi – lagi harus memilih, naik cidomo atau memberi ‘uang damai’. Gw miih cara yang kedua aja karena ga mau ribet. Hehehehe. Rp.20.000,- pun gw keluarkan untuk membayar ‘uang damai’ sekaligus sebagai tiket masuk.
Ada 2 pilihan transportasi yaitu dengan menggunakan perahu biasa seharga Rp. 13.000,- selama sekitar 45 menit dengan resiko harus menunggu 30 penumpang terlebih dahulu baru bisa jalan atau dengan fast boat seharga Rp.75.000,- selama sekitar 10 menit dan bisa jalan hanya dengan 10 penumpang. Pas di loket gw bertanya ternyata calon penumpang perahu biasa baru 5 orang yang menunggu, saat itu cuaca panas dan gw ga sabar pengen temu kangen dengan Gili, jadilah gw pilih cara yang kedua.

Jadwal penyeberangan dengan fast boat  dari Pelabuhan Bangsal ke Gili Trawangan mulai dari jam 11.30 WITA hingga 16.30 WITA dan sebaliknya mulai jam 09.30 WITA hingga 15.30 WITA sedangkan perahu biasa mulai dari jam 07.00 WITA hingga jam 17.00 WITA.
Suasana Pelabuhan Gili Trawangan
Biar nyaman, sebaiknya begitu sampai di Gili Trawangan langsung memesan tiket kembali sesuai jadwal yang diinginkan. Karena gw dah nyaman dengan Pak Ibrahim, jadilah gw minta dia untuk menjemput kembali di Pelabuhan Bangsal. Oia ini no nya Pak Ibrahim : 081907898914 , mungkin lo perlu seandainya liburan ke Gili.

Thursday, 30 October 2014

MC ALDITAMA FOR YOUR EVENTS

Presenter, MC, Host, Aktor


Smart, Fun & Motivates With Smile, demikian tagline yang  ingin ia perkenalkan melalui talenta yang dimiliki. Ia merupakan salah satu dari sedikit MC yang mengedepankan intelegensia dan permainan kata – kata yang cerdas namun tetap humoris dalam membawakan suatu acara. Latar belakangnya sebagai penulis di berbagai kolom musik dan film menjadikan kelebihan tersendiri.

Sempat dipercayakan menjadi salah satu MC icon masyarakat Jakarta yang mewakili pembaca majalah Area Magazine bersama Indra Bekti, Ayu Dewi, Fla & Melly Munial pada perayaan ulang tahun Area Magazine yang ke-5 pada tahun 2008 lalu. Tak hanya dengan mereka, ia juga sempat berkolaborasi bersama Sarah Sechan, Edric Chandra, Thalita Latief, Okie Agustina, Merry Putrian, Rizky Kinos, Artika Sari Devi, Julia Perez, Tasya Kamila, Natalie Sarah, Gracia Indri, Angel Karamaoy, Tikeu Priatnakusumah, Vincent Rompies, Nikita Mirzani, Enno Lerian dan Iwet Ramadhan.

Mulai dari acara ulang tahun, resepsi pernikahan, company gathering, launching product hingga konser musik pun telah dipercayakan kepadanya. Karier MC nya semakin lengkap ketika dia dipercaya oleh salah satu perusahaan keuangan terkemuka untuk tampil di London & Edinburgh pada September 2011 lalu serta di Osaka pada Juli 2013 membawakan acara Gala Dinner salah satu perusahaan HP terkemuka.
Penampilan kocaknya bisa disaksikan lewat Video Klip Kangen Band – Nilailah Aku (2010). Sebagai model iklan, ia memulai debutnya untuk iklan Yamaha Mio versi ‘Suka Suka’ media cetak (Sep 2011).

CLIENTS
Summarecon Mall Group (Mal Kelapa Gading, La Piazza, Summarecon Mall Serpong), Lippo Malls Group (Lippo Mall Kemang, Lippo Mall Kramat Jati, Pluit Village, Pejaten Village), Pondok Indah Mall, Senayan City, Central Park Mall, Baywalk Mall, Pusat Grosir Senen Jaya, Popular Magz, Kiddo Magz, Area Magz, Score! JKT, No Name Batam, Dji Sam Soe, Djarum Super, Gudang Garam, Star Mild, JakJazz, Sayfestville, Dyandra Promosindo, Nokia, Olive, Samsung, Mito, E Touch, Tetra Pak, Prochiz, Khong Guan, Roma Biskuit, Danone, Walls, Autan, XL, Indosat, Telkomsel, TVS, Suzuki, Yamaha, Honda, SHARP, Panasonic, Stickiii, Sinar Dunia, HSBC, BNI, BRI, DBS Bank, Bank Artha Jasa, Koji San Soap, Giant, Adira Finance, Korea Tourism Organization, Djaya Property Group, Met Land Property, Pocari Sweat, Kiyora, Pemda DKI Jakarta, Mitshubishi, Toyota, Stat Oil, Santos Oil, Contrexin, dll
Host For Pelancong Muslim ANTV
Japan Edition (Juli 2013)
YOUTUBE LINKS
= MC for Launching Nokia Lumia 920 @ Central Park Jakarta 13 Jan 2013

= MC for Vario Vacation Photo Contest @ Quicksilver Cruise, Ancol 27 Nov 11  w/ VJ Daniel


= MC for Santos Oil Company Family Day Happy Go Green @ Eco Park Ancol 19 Nov 2011



= Model Klip Kangen Band - Nilailah Aku (2010)

Sunday, 18 May 2014

Ladya Cheryl Baharrizki



Photo by Budi Cuprit
Pernah ga lo nge-fans banget sama seseorang yang menurut lo paling ideal untuk dijadikan sosok sebagai pasangan hidup? Walaupun lo belum pernah ngobrol apalagi kenalan sama dia, itu yang gw rasain pas pertama kali ngelihat LADYA CHERYL di film Ada Apa Dengan Cinta (2002). Terserah gw mau dibilang korban film apa gak, tp gw rela nonton tuh film sampe sekitar 5x bukan karena pengen lihat Dian Sastro atau Titi Kamal tapi karena ada Ladya yang secara sukses memerankan Alya sebagai remaja yang tenang, dewasa sekaligus bijaksana sekalipun punya masalah keluarga yang berat.

Rasa ingin tahu gw tentang Ladya semakin menjadi, gw rela nangkring di warnet berjam – jam cuma untuk cari tahu tentang Ladya, dan info yang waktu itu gw dapet adalah : dia sekolah di SMA Tarakanita dan tinggal di Pondok Indah. Kebetulan banget ternyata temennya temen gw adik kelasnya dan langsung lah gw minta tolong cari tahu no telepon rumahnya (jaman itu HP masih belum populer), pas langsung dapet, gw ga tahu harus ngomong apa dan bahas apa. Akhirnya gw memberanikan diri untuk telepon,yang angkat pembantunya dan sampe ditahap itu aja gw dan seneng banget, dan pas Ladya yang angkat, gw langsung tutup tuh telepon. Senengnya bukan main, lebih dari ABG jatuh cinta dan ga bisa diungkapin lagi lah.

Karena efek AADC, Ladya jadi sering wara-wiri di TV sebagai model klip musisi papan atas saat itu, yang paling gw inget ya pas jadi model klip nya T Five – Kau yang sepanjang klip mukanya senyum terus dan lagi – lagi gw bela – belain nungguin tuh klip di MTV dan Clear Top 10 gara – gara cuma pengen lihat senyumnya aja. Naif banget ya gw. Hahahahaha… Masih inget lagu Kasih Tak Sampai nya Padi ga? Itu kayaknya jadi soundtrack hampir semua orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan atau ga kesampean ya, termasuk gw yang waktu itu ngelihat dengan penuh amarah ternyata gebetan gw pacaran sama temen sebangku gw dan model klip tuh lagu adalah : Ladya Cheryl. Edan ga tuh?

Pas tahun 2003, gw kembali bisa melihat senyum Ladya dengan porsi yang lebih banyak karena dia jadi pemeran utama di film musikal Biarkan Bintang Menari. Nah karena saat itu gw dah mulai kerja, waktu gw terbatas banget untuk santai jadi lumayan teralihkan ga mikirin Ladya lagi. Lanjut ke 2005, pas tengah malem gw beli sesuatu di Circle K Fatmawati dan pas mau bayar di kasir, DI DEPAN GW ADA LADYA!!! Gw langsung lemes banget dan ga tau harus apa, cuma beberapa detik aja gw dengan jelas bisa lihat di depan mata sambil denger suaranya terus pandangan gw ga bisa lepas sampe dia berjalan masuk ke mobil yang didalamnya ada Rako, pacarnya waktu itu. Ini ibarat adegan film banget ga sih?
Ladya di film Fiksi (2008)
Ntah kenapa di saat gw lupa sama Ladya, pasti dia hadir dalam bentuk apapun termasuk adegan ga sengaja lainnya pas gw turun di eskalator PS dan dia lagi naik dari arah yang berlawanan, ga berapa lama dari kejadian di CK itu. Lagi – lagi gw cuma bisa puas melihatnya aja tanpa berani untuk nyapa. Oia temen – temen deket gw banyak yang tahu kalo gw suka banget sama Ladya termasuk sering kasih tau update info misalnya Ladya sempet kerja di Majalah Hai sebagai fashion stylist dan beberapa info lainnya termasuk dia lagi pacaran sama siapa.

2012 adalah tahun yang paling gila, tepatnya 10 Juli 2012 pas gw lagi nemenin salah satu artis gw pemotretan yang photographernya adalah Budi Cuprit yang tak lain adalah temen sekantornya Ladya di Majalah Hai. Beberapa hari sebelumnya di sela – sela meeting persiapan, gw sempet cerita sedetail tulisan di atas tentang gimana nya gw sama Ladya, dan ditengah – tengah sesi pemotretan tersebut tanpa gw sangka – sangka datanglah LADYA CHERYL BAHARRIZKI -cewekidolagwsepanjangmasa- hadir menyapa dengan ramahnya. Saat itu, gw cuma bisa diem ga percaya, mau sujud syukur juga ga tahu kiblatnya kemana, tahan nafas dikit, atur mimik biar ga ketahuan gejolak rasa di dada ini sampai akhirnya gw sanggup untuk ngobrol ke dia. Pertemuan indah itu ga cuma berakhir dengan photo bareng tapi juga dengan TUKERAN NO HP DAN JANJIAN KETEMUAN !!! WOOOHOOOO
Lihat aja bajunya dia pas ketemu dia, biasa banget plus ga dandan.
Malah ini bikin dia jadi kelihatan cantik banget
Sekitar seminggu kemudian, gw janjian di Ratu Plaza, bukan mall yang kekinian banget kan dan lo tau kita makan siang dimana? Di Kantin nya, dia bilang ngapain buang uang banyak untuk makanan yang mahal dan belum tentu enak. Glek banget ga tuh? Saat itu gw lagi – lagi cuma bisa tertegun dan kagum dengan kesederhanaan yang dia punya. Ngobrol – ngobrol kita pun berlanjut beberapa lama hingga pada suatu kesimpulan gw menemukan keunikan dia yang lainnya :

- Lebih milih kemana – mana naik kendaraan umum selain taksi karena dia seneng ngelihat banyak orang dengan karakter yang beragam.

-  Ga mau punya smartphone karena menurut dia yang paling penting adalah interaksi di dunia nyata.
- Ga punya akun social media apapun, sempet punya twitter tapi hanya untuk menyampaikan bela sungkawa ke sahabatnya aja.
- Walaupun sempet jadi fashion stylist, dia ga punya stock apalagi doyan belanja baju. Baju yang dia pake pas ketemu gw adalah baju yang udah sempet di rendem blau beberapa kali supaya bajunya kelihatan baru lagi.
- Lagi seneng belajar main bass karena ngeband sama pacarnya : Zeke & The Popo
- Ga suka popularitas, makanya ga pernah lihat dia di infotainment kan.
- Ga pernah tertarik main sinetron dan dia sebenernya ga merasa cantik sama sekali.  

Sesederhana dan seunik itu pemikiran dia, ga kerasa udah 2 jam kita ngobrol lalu datanglah pacarnya yang bernama Zeke, kita ngobrol bareng sebentar lalu gw pamit dan setelah itu kita ga pernah interaksi apapun. Bagi gw itu udah cukup, gw juga ga ada niat buat naksir Ladya buat jadi pacar sih, ga mungkin juga lah ya. Hahahahaha….

Happy Wedding Ladya & Zeke
Tadi malam sebelum gw tidur, gw sempet cek – cek twitter dan ada yang posting kalo Ladya & Zeke udah menikah tanggl 9 May 2014 lalu. Selamat ya Lad, semoga gw bakalan dapat istri yang seperti lo.